Mengenai Altar Part 11
Terima kasih kepada Buddha Sakyamuni!
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang maha pengasih dan maha penolong!
Terima kasih kepada Para Buddha dan Dewa Pelindung Dharma dari seluruh penjuru!
Terima kasih kepada Master Jun Hong Lu!
Terima kasih kepada semua saudara se-dharma!
Apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam postingan kami, kami memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, para Dewa dan Pelindung Dharma memaafkan, Master Jun Hong Lu memaafkan, mohon saudara-saudara dan teman-teman se-Dharma memaafkan.
Waktu pertama kali pasang altar Buddha di rumah, aku juga bingung banget soal tata cara: mulai dari posisi rupang, urutan sembahyang, sampai hal-hal kecil seperti bersih-bersih altar dan kapan harus menutupnya dengan kain merah. Jadi di sini aku rangkum pengalaman pribadi yang mungkin bisa membantu teman-teman. 1. Menentukan ruang sembahyang Buddha di rumah Kalau rumah kecil, ruang sembahyang Buddha tidak harus ruangan khusus. Yang penting tempatnya bersih, rapi, tidak berisik, dan bukan di kamar mandi atau dapur yang terlalu kotor. Banyak yang menaruh altar Buddha di ruang keluarga, dekat jendela supaya terang, tapi tetap usahakan tidak langsung menghadap ke pintu utama agar terasa lebih khidmat. 2. Penataan altar Buddha di rumah Untuk altar Buddha Mahayana, biasanya di tengah adalah rupang Buddha Sakyamuni atau rupang utama, lalu di kiri kanan bisa rupang Bodhisattva seperti Guan Shi Yin Pu Sa, Wei Tuo Bodhisattva, atau Bodhisattva lain sesuai keyakinan. Kalau altar non-XLFM tapi kita mengikuti ajaran XLFM, banyak yang menganjurkan tetap memasang rupang Guan Shi Yin Pu Sa XLFM di altar, karena beliau sangat pengasih dan melindungi praktisi. Rupang Bodhisattva yang berdiri di atas alas lotus dipercaya membawa kedamaian dan keamanan. Bunga lotus melambangkan kesucian, jadi kalau bisa pilih rupang yang ada ukiran lotus di bawahnya. 3. Cara membersihkan dan menyentuh altar Ini hal yang sering disepelekan. Rupang Bodhisattva sebenarnya tidak boleh sembarangan disentuh. Kalau memang perlu dibersihkan atau dipindahkan, biasanya dianjurkan melafalkan paritta terlebih dahulu (misalnya Paritta Xin Jing beberapa kali) sambil memohon izin dengan penuh hormat. Saat mengelap altar, ada yang mengikuti urutan sesuai sembahyang: mulai dari bagian tengah, lalu kiri, lalu kanan. Hiolo (gentong dupa) juga perlu diperhatikan. Saat mengganti hiolo, dianjurkan melafalkan Paritta Xin Jing 7 kali. Dari sharing praktisi, tidak perlu melafalkan Da Bei Zhou khusus untuk mengganti hiolo, cukup fokus ke Xin Jing Mantra dengan niat yang tulus. 4. Persembahan di altar Buddha Persembahan altar Buddha bisa sederhana: air bersih, buah segar, bunga. Yang penting bersih dan diganti secara berkala, jangan dibiarkan busuk. Kalau kita akan pergi ke luar kota agak lama, sebaiknya sebelum berangkat mengganti persembahan, menyalakan dupa terakhir dengan niat baik, lalu menjelaskan secara batin kepada Bodhisattva bahwa kita akan bepergian. Ada yang melakukan visualisasi Bodhisattva menjaga rumah selama kita pergi. 5. Menutup altar dengan kain merah Ada pertanyaan yang sering muncul: kapan altar perlu ditutup kain merah? Misalnya saat pemilik rumah dirawat di rumah sakit sekitar 10 hari. Banyak sharing yang menyarankan, jika di rumah tidak ada yang bisa meneruskan menyalakan dupa dan mengganti persembahan, altar boleh ditutup kain merah sementara agar lebih khidmat dan "istirahat" dengan baik. Untuk altar kecil, kalau dupa sudah berhenti dipakai dan tidak akan dilanjutkan lagi, lebih baik segera ditutup dengan kain merah supaya tidak dibiarkan terbengkalai. 6. Rumah tanpa altar dan jendela di malam hari Ada juga yang bertanya soal menutup tirai jendela di malam hari kalau rumah tidak punya altar. Menurut beberapa penjelasan, rumah tanpa altar lebih mudah dimasuki energi atau arwah yang tidak baik. Karena itu, menjaga kebersihan, menutup tirai di malam hari, dan tetap banyak melafalkan paritta seperti Xin Jing Mantra bisa membantu menjaga suasana rumah agar lebih tenang meski belum punya altar. 7. Mengelola akar dupa dan sisa-sisa persembahan Detail kecil tapi penting: akar dupa yang sudah dicabut jangan dibuang sembarangan. Banyak praktisi memasukkan akar dupa ke dalam amplop dulu sebelum dibuang, karena amplop murah dan praktis, dan terasa lebih hormat. Sisa persembahan seperti buah yang masih layak makan boleh dikonsumsi, karena dianggap menerima berkah dari altar. Semua ini aku pelajari pelan-pelan dari sharing sesama saudara se-Dharma. Intinya, sembahyang Buddha di rumah dan mengatur altar bukan soal mewah atau tidak, tapi soal hati yang tulus, rasa hormat kepada Buddha dan Bodhisattva, serta niat untuk menjaga ruang sembahyang tetap bersih dan penuh welas asih.










