“Ayah, HP-mu bisa menunggu, tapi masa kecil anakmu sedang berlalu.” 🥀😭
Bestie, nyesek gak sih lihat pemandangan ini? 🫠
Anak udah nungguin dari sore, pas Ayahnya pulang kerja, cuma dapet jatah waktu bentar sebelum tidur. Eh, pas waktu yang sebentar itu pun, mata si Bapak malah nempel terus di HP. 📱💔
Anak narik-narik tangan minta main, dicuekin. Anak mau cerita kejadian di sekolah, cuma dijawab "he-eh" sambil jempolnya asik scrolling. Padahal bagi anak, 1 jam bareng Ayah itu adalah recharge energi paling luar biasa buat mereka.
Jangan sampai nanti pas mereka udah besar dan asik sama dunianya sendiri, kita baru nyesel kenapa dulu nggak kita peluk selagi sempat. Karena anak nggak akan inget "Postingan apa yang Ayah lihat", tapi mereka akan inget "Ayah selalu ada atau selalu sibuk sama HP-nya".
Siapa yang suaminya kalau pulang kerja langsung "akrab" sama HP-nya daripada sama anak? Curhat dong di bawah, biar plong! 🤗👇
... Baca selengkapnyaSebagai orang tua, saya pernah mengalami masa-masa di mana pekerjaan dan gadget mengambil sebagian besar perhatian saya setelah pulang kerja. Namun, setelah menyadari betapa singkatnya waktu berkualitas yang bisa saya berikan untuk anak saya setiap hari, saya mulai belajar untuk meletakkan ponsel saya saat berada bersama mereka.
Dalam sehari, anak-anak hanya bisa bertemu ayahnya sekitar 1 hingga 2 jam, dan waktu itu sangat penting bagi mereka. Saya paham betul bahwa untuk anak, satu jam dengan ayah adalah momen yang sangat berarti — mengisi semangat dan rasa aman mereka. Momen tersebut bukan saja tentang fisik yang hadir, tetapi kehadiran emosional yang utuh, seperti menatap mata mereka, memberi pelukan hangat, dan mendengarkan cerita mereka tanpa gangguan digital.
Mengurangi penggunaan HP saat bersama anak memang tidak mudah, apalagi dengan banyaknya notifikasi yang masuk. Tapi pengalaman saya membuktikan bahwa hanya dengan menaruh HP di ruangan lain ketika sedang bersama anak, saya bisa fokus dan membangun koneksi lebih baik dengan mereka. Anak saya jadi lebih mudah bercerita, bahkan kadang mereka langsung menempel dan tertawa bersama saya.
Saya juga belajar bahwa nafkah tidak hanya soal materi, tetapi kehadiran emosional ayah sangat dibutuhkan anak. Kalau ayah terlalu sibuk dengan layar ponsel, anak bisa merasa terabaikan dan mencari perhatian di tempat lain. Hal ini dapat berdampak jangka panjang pada hubungan keluarga.
Saya ingin mengajak para ayah dan juga istri untuk saling mengingatkan dan membuat kesepakatan kecil agar waktu bersama anak lebih berkualitas, misalnya dengan menetapkan 'waktu bebas HP' setelah pulang kerja. Percayalah, kenangan ini akan menjadi harta yang berharga bagi anak dan keluarga. Jangan sampai saat anak sudah besar dan mulai sibuk dengan dunianya sendiri, kita menyesal karena waktu kecil mereka terlewat begitu saja hanya karena ponsel yang selalu menyita perhatian.
Menjadi ayah yang hadir secara utuh bukan hanya soal memberikan nafkah, tapi juga memberikan nutrisi jiwa bagi anak. Sebab, masa kecil anak hanya sekali dan sangat berharga. Jika Anda merasakan hal yang sama, mari bagikan pengalaman dan cara Anda menjaga kehadiran emosional agar bisa menjadi ayah yang peka dan penuh cinta.