Aku lagi nulis buku ke-2, tulisan pertama aku judulnya Anak Angin (masih nunggu masuk review 2 major publisher) tp kalo ada yg mau baca bisa bgt udah aku publish di website.
Ceritanya berlatar waktu sekitar tahun 1978 sampai tahun 2000-an, bercerita tentang kisah seodang pria yang tumbuh tanpa peran orang tua, ibunya memiliki gangguan emosi, sehingga mengharuskan pria tersebut hidup seperti angin, hidup dari rumah kerabat yang satu, ke rumah kerabat yang lainnya.
Cerita yang ada di dalam cerpen ini juga penuh ironi, semua tokoh di dalamnya memiliki pergulatan dan gemuruh di dalam dirinya masing-masing, menceritakan sulitnya keluar dari kemiskinan struktural, dan terdapat gambaran betapa sulitnya hidup sebagai perempuan di Indonesia, dari beberapa tokoh perempuan di dalamnya, yang juga tanpa sosok laki-laki yang membuat mereka merasa aman.
Buat cerita kedua, ttg kehidupan seorang penjahit perempuan, banyak intrik dan gambaran sulitnya hidup sebagai perempuan dengan kelas ekonomi rendah.
Kalau ditanya, kenapa sih tulisannya gitu terus? Ya, mungkin salah satu faktornya karena aku sering merasa resah melihat kondisi yg sesungguhnya di lingkunganku. Emosi-emosi yg dulu sempat terasa saat aku hampir kehilagan nyawa akibat depresi juga pasti ada kontribusinya.. (hal yg paling sensitif ini pun skrg udah bisa dgn santai aku share)
Perjalanan yg nggak sebentar buat di titik ngerelease segalanya lewat karya tulis tuh jd pengingat jg buat aku bahwa aku harus bisa embrace diri aku dgn apa adanya.
Setelah membaca novel Anak Angin, aku semakin menyadari bagaimana kisah-kisah kehidupan yang penuh pergulatan internal dapat menjadi cermin nyata bagi banyak orang yang menghadapi situasi serupa. Novel ini bukan hanya bercerita tentang kemiskinan dan kesulitan hidup, tetapi juga menggambarkan emosi mendalam dari tokoh-tokohnya yang hidup dalam ketidakpastian dan kerap kali kehilangan sosok yang memberikan rasa aman. Kehidupan pria dalam kisah ini yang sering berpindah dari satu rumah kerabat ke rumah lain seperti angin, melukiskan betapa rapuhnya fondasi keluarga dan pentingnya dukungan sosial. Selain itu, gambaran perempuan yang menghadapi kesulitan ekonomi rendah tanpa perlindungan laki-laki juga memberikan perspektif baru tentang ketidakadilan gender yang masih terjadi di Indonesia. Dari pengalaman pribadi penulis yang juga pernah mengalami masa sulit akibat depresi, novel ini terasa sangat autentik dan mengena. Aku merasa setiap perasaan resah, kehilangan, dan perjuangan yang tertuang dalam tulisan ini mampu menyentuh pembaca dengan cara yang unik. Sebagai penikmat karya sastra, aku menganggap bahwa cerita seperti ini sangat penting untuk dibaca, karena membuka wawasan dan empati kita terhadap kondisi nyata yang sering tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari. Bagi yang ingin memahami lebih dalam tentang dampak kemiskinan struktural dan pergulatan batin manusia, novel Anak Angin sangat direkomendasikan. Terakhir, aku juga ingin menyampaikan apresiasi terhadap karya yang berani mengungkap sisi gelap dan emosional tersebut, karena melalui tulisan seperti ini kita diajak untuk embrace diri dan kehidupan dengan segala ketidaksempurnaan yang ada.
