Sekar Ayu (Aku Mencari Tempat Pulang)
Sekar Ayu: Aku Mencari Tempat Pulang, Tapi Justru Menemukan Penjara Baru
🌸🌸🌸
“Teh... Bapak akan menj o d o hkan kamu dengan anak teman bapak.”
Kalimat sederhana itu mampu membuatku terdiam cukup lama. Kalimat yang tak pernah kubayangkan akan keluar dari m u l u t orang tuaku. Dari sekian banyak hal yang ingin kudengar, mengapa justru itu yang mereka ucapkan?
“Bapak mau menj o d o hkan aku?” tanyaku memastikan.
Bapak hanya mengangguk, begitu pula dengan mamah yang duduk di sampingnya. Sekilas aku tertawa g eti r, mencoba menganggap pernyataan itu hanya sebuah lelucon.
“Pak... aku belum mau men i k a h. Aku masih ingin b ek erj a. Masih ada Aji yang harus aku urus dan b i a y a i. Apa Bapak lupa?”
“Justru karena Bapak tidak ingin kamu susah payah b eke rja, makanya Bapak menjodohkan kamu dengan a n a k Pak Gozali,” jawabnya tenang. “Kalau kamu men i k a h dengannya, kamu tidak perlu b eke rja lagi seperti ini. Cukup di r u m a h, jadi istri dan mengurus suami. Semua kebutuhan kamu akan dipenuhi oleh, Dimas”
Aku memiringkan b i b i r, menahan em o si.
“Maaf, Pak, tapi aku belum siap men i k a h. Aku masih bisa b ek er ja dan mencari u a n g sendiri. Lagi pula, aku masih ingin melanjutkan kuliah, meski harus ambil kelas karyawan.”
“Bapak tidak mau dengar bantahan, Sekar Ayu Sundari. Untuk apa perempuan melanjutkan kuliah? Pada akhirnya, perempuan akan kembali ke dapur. I jaz ah mu juga tidak akan terpakai,” ujarnya tegas.
“Setidaknya aku dapat ilmu dan wawasan, Pak. Zaman sekarang, ilmu tidak hanya dipakai untuk b eke rja. Mengurus a n a k, suami, dan r u m a h tangga pun butuh ilmu,” balasku membantah.
“Sudahlah, Teh... dengar saja kata Bapak,” sahut Mamah yang sedari tadi diam. “Lagipula, teteh belum kenal kan sama a n a k Pak Gozali itu? Dia a n a k bungsu, tampan, dan paling sukses di antara kakak-kakaknya. Mamah yakin kamu nggak akan menyesal men i k a h dengannya.”
Aku menatap keduanya dengan nanar. Selalu saja mereka memutuskan sesuatu semaunya.
“Terus... kalau aku men i k a h, Aji bagaimana, Mah? Siapa yang akan mengurusnya? Apa Mamah dan Bapak mau?”
Keduanya terdiam, saling pandang. Dari ekspresi itu saja aku tahu jawabannya. Mereka tidak berniat mengurus Aji.
Aku benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran mereka. Berbulan-bulan p e r g i entah ke mana, lalu pulang hanya untuk memberi kabar bahwa mereka akan menj o d o h kanku.
Aku sempat berpikir mereka pulang karena r i n d u kepadaku atau setidaknya rindu pada Aji, a n a k bungsunya. Tapi ternyata tidak. Tidak ada p elu k an, tidak ada sapaan hangat, hanya pembicaraan dingin tentang pern i k a han yang tidak aku harapkan.
“Kenapa? Mamah dan Bapak mau pergi lagi?” suaraku mulai bergetar. “Kalian menyuruh aku meni k a h, tapi kalian juga keberatan mengurus Aji? Jadi Aji harus bagaimana? Apa aku juga yang harus tetap mengurusnya atau kalian titipkan lagi Aji ke adik kalian? Mamah dan Bapak lupa kalau dia masih tanggung jawab kalian?”
Air m a t a mulai memenuhi pelupuk m at a. Sudah tidak kuat rasanya aku memendam semuanya.
Sudah hampir lima tahun mereka selalu meninggalkan kami begitu saja, mereka hanya akan pulang sebentar, lalu mengajak pindah kontrakan, tanpa pernah menjelaskan apa pun. Aku sudah terbiasa mandiri, tapi melihat Aji tumbuh tanpa kasih s a y a ng orang tua jelas membuatku h a n c u r.
“Urusan Aji bisa kita bicarakan nanti. Sekarang yang penting kamu setuju dulu untuk dij o d o hkan,” kata Bapak akhirnya. “Besok keluarga Pak Gozali akan datang. Kita tentukan tanggal secepatnya.”
“Kalau kamu men i k a h, biar Aji sama kami dulu sampai kamu dan suamimu selesai bulan m a d u,” timpal Mamah menambahkan. “Setelah itu, bawa saja
Aji denganmu. Mamah rasa Nak Dimas tidak akan keberatan. Orang tuanya juga paham a g a m a, mereka pasti bisa menerima kamu dan Aji tinggal bersama.”
Aku menggeleng, tidak percaya. Mereka berbicara seolah Aji hanya beban yang bisa dititipkan kapan saja, kepada aku a n a k pertamanya. Padahal Aji butuh kasih s a y a ng orang tuanya, bukan sekadar tempat tinggal.
“Memangnya setelah itu kalian mau ke mana lagi? Pergi lagi?” tanyaku lirih, dengan m a t a menatap sinis.
“Nanti datang lagi hanya untuk minta u a n g? Atau ajak kami pindah kontrakan lagi? Sebenarnya apa yang kalian lakukan di luar sana?”
Aku menarik n ap as panjang. “Pak... kalau memang Bapak dan Mamah tidak bisa memberikan kasih s a y a ng untuk aku, aku masih bisa terima. Tapi tolong... berikan itu untuk Aji. Dia butuh perhatian. Aku tidak keberatan membawa Aji setelah men i k a h, tapi apakah keluarga teman Bapak itu akan menerima kami berdua? Belum tentu, kan?”
Tangisku akhirnya pecah. Aku sudah terlalu lama berpura-pura kuat. Aku hanya a n a k yang ingin diperhatikan, ingin dic i n ta i. Tapi mereka justru mengatur hidupku tanpa mendengar sedikit pun isi h a t i ku.
“Sudah,” ucap Bapak datar. “Bapak tidak mau bahas hal lain. Bapak hanya ingin membicarakan perj o d o h a n ini. Ayo, Mah, kita beri kabar keluarga Pak Gozali bahwa perj o d o h an ini diterima.”
Bersambung...
Baca selengkapnya di Kbm App
Judul : Sekar Ayu (Aku Mencari Tempat Pulang)
Penulis : Yastin Arunika
Setelah membaca kisah Sekar Ayu yang penuh lika-liku dan tekanan dari orang tuanya, saya merasa terinspirasi sekaligus prihatin. Banyak orang mungkin bisa merasakan beratnya bertentangan dengan tradisi keluarga, apalagi ketika harus memilih antara melanjutkan pendidikan atau mengikuti keinginan orang tua. Saya sendiri pernah mengalami situasi serupa ketika menghadapi tekanan dari keluarga besar untuk menentukan masa depan. Melihat Sekar Ayu berjuang untuk mengurus adiknya, Aji, sekaligus menginginkan kebebasan untuk bekerja dan belajar, membuat saya sadar bahwa kasih sayang dan dukungan dalam keluarga sangat penting. Selain itu, cerita ini mengingatkan kita bahwa perjodohan tanpa persetujuan bisa menjadi penjara emosional, bukan solusi yang membahagiakan. Saya berharap kisah ini bisa membuka wawasan bagi banyak orang, khususnya yang masih bingung menentukan jalan hidup di tengah tekanan keluarga. Bagi yang mengalami hal serupa, penting untuk terus berkomunikasi secara terbuka dan mencari dukungan dari orang-orang terdekat agar keputusan yang diambil bisa membuat semua pihak merasa dihargai dan dicintai. Jangan lupa, setiap individu berhak menentukan kebahagiaan dan masa depannya sendiri.


