#MaluGak Punya dinding rumah udah kayak galeri seni dadakan—penuh coretan spidol, gambar nggak jelas, sama stiker yang nempel sembarangan. Mulai dari gambar orang-orangan, hewan aneh, sampai huruf-huruf yang cuma mereka yang ngerti maksudnya. 🫣🫣
Banyak yang nyaranin dicat ulang, tapi ya ngapain juga? Besok pasti dicoret lagi. Mending tunggu anak-anak agak gedean, baru deh dipikirin soal cat-cat itu.
Sekarang mah, biarin aja. Namanya juga masa kecil, tempat belajar dan berekspresi—meskipun ekspresinya kadang bikin pusing kepala. Tapi ya gitu, justru dari situ nanti bakal jadi cerita.
2025/9/18 Diedit ke
... Baca selengkapnyaJujur, pertama kali lihat tembok penuh coretan, yang kepikiran cuma satu: kesel. Apalagi waktu lihat ada coretan kartun aneh, garis-garis nggak jelas, terus ditempelin stiker kesel dengan ekspresi marah, rasanya pengen langsung ambil cat dan nutup semuanya.
Tapi setelah sering kejadian, aku mulai mikir: mungkin buat kita itu cuma coretan, tapi buat anak-anak itu kan “kanvas” mereka. Mereka menggambar orang-orangan, hewan aneh, sampai simbol-simbol ajaib yang cuma mereka yang ngerti. Kadang mereka juga suka menggambar karakter kartun yang biasa mereka tonton, lalu ditempelin stiker biar makin rame. Tembok jadi kayak komik hidup versi mereka sendiri.
Supaya nggak terlalu stres, aku akhirnya bikin beberapa aturan kecil. Misalnya, aku tentuin satu bagian tembok khusus yang boleh dicoret dan ditempel stiker. Di situ mereka bebas mencoret tembok kartun, nulis apa saja, bahkan latihan huruf. Di luar area itu, aku pelan-pelan kasih pengertian kalau nggak boleh coret.
Aku juga sempat beli kertas besar dan whiteboard kecil yang ditempel dekat tembok. Ternyata lumayan membantu, karena pas tangan mereka gatel mau gambar, aku arahkan ke kertas atau whiteboard dulu. Tapi ya namanya anak-anak, sesekali tembok abu-abu di sampingnya ikut kena juga. Ada gambar wajah marah lengkap dengan simbol "#$!@" yang mereka tiru dari stiker, dan menurut mereka itu lucu.
Soal stiker, aku biarin mereka eksplor juga. Stiker merah bertuliskan "Kesel" itu awalnya kupikir negatif, tapi ternyata mereka pakai buat ekspresi perasaan. Kadang mereka bilang, "Ini ditempel kalau lagi marah". Dari situ aku malah jadi punya bahan ngobrol soal emosi sama mereka. Lucu juga sih, tembok jadi semacam "mood board" keluarga.
Untuk urusan kebersihan, aku nggak mau terlalu keras sama diri sendiri. Aku sadar, kalau sekarang tiap hari fokus bersihin tembok, yang ada aku capek hati. Jadi strategi aku: terima dulu kalau fase tembok penuh coretan ini cuma sementara. Nanti kalau mereka sudah agak besar dan nggak seaktif sekarang, baru deh dipikirin mau dicat ulang, ditempel wallpaper, atau pakai cat khusus yang bisa gampang dibersihin.
Kalau kamu juga lagi di fase yang sama, punya tembok penuh coretan dan stiker kesel di mana-mana, mungkin bisa dicoba trikku: sediakan area khusus mencoret, tawarkan media lain buat gambar, dan anggap tembok itu arsip masa kecil mereka. Suatu hari nanti, saat dinding sudah rapi lagi, coretan-coretan "nggak jelas" itu justru jadi cerita yang bikin kangen.
Gpp bunda mklum pny anak kcl.Cucuku jg bgtu tuh di rmhnya rembok warna warni dinding cat putih Gk masalah