Jujur, pertama kali lihat cuplikan "Gubernur Sherly di pusaran isu tambang" di KOMPASTV ROSI, aku langsung penasaran: sosok Sherly Tjoanda ini sebenarnya seperti apa sih? Di video itu muncul kata-kata yang cukup nyelekit: "Apa-apa kok diposting, haus validasi ya? Pencitraan ya?" dan di situ Sherly jawab dengan cukup tegas. Yang paling bikin aku ngeh adalah saat dia bilang, "Bagi saya pencitraan itu sesuatu yang saya katakan tidak saya lakukan, yang saya lakukan adalah publikasi, menginformasikan apa yang saya lakukan." Dari sini aku nangkep, dia pengen bedain antara pencitraan kosong dengan transparansi kerja. Di era sekarang, pejabat yang nggak pernah upload kegiatan sering dianggap nggak kerja, tapi yang sering upload malah dibilang haus validasi. Dua-duanya serba salah kalau nggak dijelasin. Menurut pengalamanku sebagai orang yang juga aktif di sosmed, upload aktivitas bukan selalu soal cari perhatian. Kadang itu cara kita mendokumentasikan proses, nunjukin progres, dan kasih tahu ke publik apa yang lagi dikerjain. Jadi waktu Sherly bilang "Saya tidak butuh validasi untuk menyukai saya, saya punya citra diri yang cukup baik", aku merasa itu menunjukkan kalau dia cukup percaya diri dengan identitas dan kapasitas dirinya, terlepas dari komentar netizen. Isu tambang yang disebut di tayangan itu juga bikin diskusi tentang Sherly Tjoanda makin ramai. Nama dia sering dikaitkan dengan kebijakan dan kontroversi soal pertambangan di Maluku Utara. Dari sudut pandang penonton, aku lihat wawancara seperti di ROSI penting banget buat ngasih ruang klarifikasi, biar publik nggak cuma dapat potongan berita atau judul sensasional aja. Minimal kita bisa dengar langsung cara dia menjawab, gaya komunikasinya, dan sikapnya terhadap tuduhan pencitraan. Kalau kamu juga lagi nyari informasi soal Sherly Tjoanda karena lihat cuplikan "Gubernur Sherly di pusaran isu tambang", saran aku sih jangan cuma berhenti di satu video. Coba cek beberapa sumber: berita, rekaman lengkap talkshow, dan juga pernyataan resminya. Dari situ baru kelihatan konsistensi antara apa yang dia publikasi dan kebijakan nyata di lapangan. Buat aku pribadi, sosok seperti Sherly menarik buat diamati bukan cuma dari kontroversinya, tapi juga cara dia membingkai narasi tentang dirinya: publikasi vs pencitraan, validasi vs kepuasan diri sendiri. Di tengah gempuran komentar "haus validasi" di sosmed, perspektif macam begini bikin diskusi soal figur publik dan tanggung jawab komunikasi ke masyarakat jadi lebih nyambung dan nggak hitam-putih.
4/5 Diedit ke
