EGO ORTU ITU TOXIC, TAPI SERING BILANG "DISIPLIN"
EGO ORANG TUA ITU BAHAYA.
Tapi sering kita bungkus pake kata “disiplin”.
Padahal isinya...
Luka yang gak kelihatan.
Buat anak kita sendiri.
KENAPA...??
Kita marah, bukan karena anak salah.
Tapi karena gengsi kita keganggu.
Anak bantah dikit → langsung dibilang kurang ajar.
Padahal dia cuma lagi tanya “kenapa”.
Kita pengen anak nurut.
Tapi seringnya bukan karena itu baik,
cuma karena…
“gue orang tuanya, ya harus nurut!”
Anak disuruh minta maaf.
Tapi giliran kita yang salah?
Pura-pura gak kejadian.
Karena minta maaf ke anak itu katanya “jatuhin wibawa”.
Anak dilarang nangis.
Katanya lebay, cengeng, bikin pusing.
Tapi kita sendiri kalau lagi sedih,
pengen dipeluk, kan?
Kita ngomel sambil bilang:
"Mama marah karena kamu!"
Padahal yang capek, ya kita.
Yang stres, ya kita.
Tapi kita lempar semua ke anak.
Kita pengen anak sabar,
tapi kita sendiri gampang meledak.
Kita suruh anak ngertiin kita,
tapi kita gak pernah coba ngerti mereka.
Jadi orang tua itu gak gampang.
Tapi jangan jadikan anak pelampiasan.
Mereka bukan musuh.
Mereka cermin.
Kalau kita belajar turun ego,
anak juga belajar kasih sayang.
Pelan-pelan ya...
Kita sama-sama belajar jadi ORANG TUA.
BUKAN PENGUASA.
Kalau kamu pernah ngerasa gini juga,
follow aja.
Biar gak ngerasa sendirian di jalan ini.
Jujur ya, dulu aku sering banget menyamaratakan semua sikap tegas sebagai “disiplin”. Padahal kalau dipikir ulang, banyak momen yang sebenarnya cuma pelampiasan emosi dan ego. Dari luar mungkin terlihat kayak gambar ilustrasi hitam putih anak dimarahi orang tua kartun: orang tua teriak, anak tertunduk sedih. Tapi di dunia nyata, “gambar” itu menyimpan luka yang nggak kelihatan. Pelan-pelan aku mulai refleksi. Setiap kali marah, aku tanya ke diri sendiri: “Aku marah karena dia benar-benar salah, atau karena aku lagi capek dan pengen diturutin aja?” Ternyata seringnya yang kedua. Misalnya, anak nanya “kenapa sih harus gitu?” dan aku langsung tersinggung, merasa wibawaku diganggu. Padahal dia cuma penasaran. Aku juga belajar bedain antara disiplin sehat dan ego orang tua. Disiplin sehat itu jelas tujuannya: untuk kebaikan anak, disampaikan dengan tenang, ada penjelasan dan konsekuensi yang masuk akal. Ego orang tua lebih ke: pokoknya nurut, pokoknya diem, pokoknya jangan bikin malu. Kalau aku lagi emosi, wajahku mungkin mirip orang tua di gambar kartun yang marah-marah itu, dan anak terlihat kecil banget di depanku. Satu titik balik besar buatku adalah ketika pertama kali aku minta maaf ke anak. Awalnya gengsi banget, kerasa kayak “jatuhin wibawa”. Tapi pas akhirnya aku bilang, “Maaf ya, tadi mama kebablasan marah,” ekspresi lega di wajah dia itu ngena banget di hati. Ternyata minta maaf nggak bikin aku kehilangan hormat, justru bikin hubungan kami lebih dekat. Sekarang, setiap lihat ilustrasi anak dimarahi orang tua, aku kebayang: kalau gambar itu dikasih warna, kira-kira perasaannya bakal tetap sekelam itu atau bisa sedikit lebih hangat karena ada pelukan dan kata maaf? Itu yang coba aku terapkan di rumah. Marah boleh, kita juga manusia. Tapi habis itu aku usahakan untuk perbaiki: ajak ngobrol, jelasin, peluk. Kalau kamu juga lagi berproses, kamu nggak sendirian. Kita sama-sama belajar buang ego pribadi sebagai orang tua, dan pelan-pelan ganti dengan sikap yang lebih sadar: marah seperlunya, disiplin dengan kasih sayang, dan berani bilang maaf saat kita yang salah.

its real🥺