Saat jalan terasa sulit di lewati IRT ini selalu percaya, bahkan daun yg jatuh adalah kehendakNya. Pasrah itu susah ?! masih di usahakan, IRT serba bisa gak boleh patah semangat 😇😊
... Baca selengkapnyaSebagai IRT, keadaan batin sewaktu menghadapi sesuatu itu rasanya campur aduk banget. Ada masa di mana aku ngerasa kuat, bisa hadapi apa pun, tapi ada juga masa di mana nangis aja tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Pasrah aja itu ternyata bukan berarti kita lemah, tapi justru proses panjang buat nerima bahwa apa pun yang terjadi, sekecil daun jatuh pun, itu atas kehendak-Nya.
Kalau lagi ada masalah, entah itu soal keuangan, anak rewel, pekerjaan rumah yang nggak ada habisnya, atau cuma rasa capek mental, biasanya batin aku mulai gelisah dulu. Kepala penuh pikiran: "Kenapa selalu aku? Sampai kapan kayak gini?" Di titik itu, aku belajar buat berhenti sebentar, tarik napas dalam-dalam, terus bilang ke diri sendiri, "Pelan-pelan, semua ada waktunya. Kamu nggak sendiri."
Salah satu hal yang membantu keadaan batin aku adalah bikin rutinitas kecil yang bikin hati lebih tenang. Misalnya, sebelum anak-anak bangun, aku sempatin duduk sebentar sambil minum air hangat atau teh, terus ngobrol sama diri sendiri dan sama Allah. Kadang cuma bilang, "Ya Allah, aku lelah, tapi aku percaya Engkau nggak mungkin kasih ujian di luar kemampuan hamba-Mu." Dari situ, ada rasa lega sedikit demi sedikit, seolah beban di pundak nggak seberat sebelumnya.
Ada juga momen ketika hidup terasa buntu, usaha kayaknya sudah maksimal tapi hasil belum kelihatan. Di situ, aku ingat lagi kalimat sederhana: "Pasrah aja!! IRT bisa." Bukan pasrah yang nyerah, tapi pasrah yang tetap berusaha sambil menyerahkan hasilnya. Misalnya, soal keuangan rumah tangga yang lagi seret. Aku tetap cari cara hemat, jualan kecil-kecilan online, atau bikin makanan sendiri biar lebih irit, tapi di saat yang sama aku belajar nggak terlalu keras menyalahkan diri sendiri kalau belum sesuai harapan.
Keadaan batin saat menghadapi sesuatu juga sangat dipengaruhi lingkungan. Kalau terus-terusan dengar komentar negatif, IRT bisa gampang down. Makanya, aku mulai batasi konsumsi berita atau konten yang bikin cemas, dan lebih sering cari komunitas yang saling menguatkan, kayak komunitas irt atau irtcommunity. Di sana, baca cerita orang lain yang juga berjuang bikin aku ngerasa lebih normal, nggak sendirian, dan ternyata banyak ibu rumah tangga di luar sana yang juga sedang belajar pasrah dan kuat.
Satu hal lagi yang penting: izinkan diri sendiri buat nggak selalu kuat. Kadang kita nuntut diri sendiri jadi IRT serba bisa, sempurna di mata suami, anak, dan keluarga. Padahal, kita juga manusia yang boleh capek, boleh salah, dan boleh minta bantuan. Justru setelah mengakui kelemahan, batin jadi lebih lega. Dari situ aku pelan-pelan belajar: ketika keadaan batin lagi goyah, bukan berarti aku gagal, tapi lagi diajak tumbuh.
Jadi, kalau kamu sekarang lagi dalam keadaan batin yang nggak karuan saat menghadapi sesuatu, kamu nggak sendirian. Pelan-pelan, pasrah aja sambil tetap berusaha. Percaya, bahkan daun yang jatuh pun atas kehendak-Nya, apalagi hidup kita yang jauh lebih berharga.