akan merampas kebaikan, waktu, kehormatan, akhirat
Aku pernah berada di fase hidup yang sangat sulit. Saat kebutuhan mendesak dan penghasilan tak menentu, aku memilih jalan yang saat itu kupikir paling cepat: riba. Awalnya terlihat menolong. Prosesnya mudah, uang langsung cair, dan aku merasa “bernafas” lagi.
Namun, hari-hari setelahnya tidak seindah yang kubayangkan.
Setiap bulan aku dikejar angsuran. Bukan hanya dompet yang terasa sesak, tapi hati juga ikut tertekan. Tidur tidak nyenyak, pikiran penuh hitungan, dan sering merasa cemas tanpa sebab. Semakin keras aku berusaha, semakin terasa berat hidup ini. Seakan rezeki ada, tapi tak pernah cukup.
Sampai suatu hari aku benar-benar lelah. Aku mulai belajar tentang riba di agama ku yaitu Agama Islam, mendengar nasihat, dan merenung. Aku sadar, mungkin bukan karena kurang kerja keras, tapi karena aku mengambil jalan yang salah. Dengan penuh rasa takut dan bismillah, aku berniat berhenti dan memperbaiki diri, meski tidak tahu bagaimana caranya.
Prosesnya tidak mudah. Aku harus menahan keinginan, hidup lebih sederhana, dan pelan-pelan melunasi kewajiban. Ada tangis, ada takut, ada rasa malu. Tapi di saat yang sama, aku mulai merasakan hal yang berbeda: hati lebih tenang.
Perlahan, Allah SWT bukakan jalan. Bukan dengan harta berlimpah, tapi dengan kecukupan. Ada saja pertolongan datang dari arah yang tidak disangka. Masalah yang dulu terasa besar, kini terasa lebih ringan untuk dihadapi.
Dari pengalaman itu aku belajar: riba bukan hanya soal uang, tapi soal keberkahan hidup. Rezeki halal mungkin tidak selalu banyak, tapi insyaAllah cukup dan menenangkan. Dan ketenangan itu, tak bisa dibeli dengan apa pun.

























































