Khotbah terakhir Pdt.Jusuf Roni
Waktu nonton lagi khotbah terakhir Pdt. Jusuf Roni ini, aku jadi keinget juga beberapa khotbah dari pdt lain, termasuk pdt Pieter Faraknimella, yang sama‑sama sering tekankan soal hubungan pribadi dengan Tuhan, bukan cuma tahu ajaran di kepala saja. Di bagian ini Pdt. Jusuf Roni jelasin pelan‑pelan bedanya believe, trust, dan emuna. Believe itu seperti ketika kita yakin bank pasti punya uang atau SPBU pasti punya bensin. Kita percaya pada sumbernya, percaya Tuhan sanggup, percaya Dia Maha Segala‑galanya, tapi belum tentu ada hubungan di situ. Ibaratnya "percaya jarak jauh" – tahu Tuhan hebat, ajarannya bagus, susunan ayat‑ayatnya rapi, tapi tetap saja hanya jadi huruf mati kalau tidak menyentuh hati. Lalu beliau masuk ke trust. Di sini mulai dibahas soal hubungan yang paling sensitif, sampai beliau kasih contoh suami istri. Kalau suami istri ngobrol lebih dari 15 menit tanpa pakai perasaan, bisa berantem, karena hubungan yang sehat itu memang pakai hati. Trust itu artinya percaya karena memiliki sebuah hubungan yang aktif. Bukan hanya tahu Tuhan sanggup, tapi juga melibatkan perasaan, relasi, kepekaan. Ada komunikasi dua arah, ada keintiman. Buat aku pribadi, bagian ini cukup nusuk, karena sering kali doa cuma formalitas, bukan percakapan dari hati. Yang paling menarik buatku adalah waktu beliau bahas emuna. Emuna itu bukan sekadar pengakuan dogma atau fit secara ajaran, tapi satu level percaya yang benar‑benar menyentuh seluruh hidup. Bukan cuma berkata "Tuhan sanggup" lalu selesai dengan kata amin yang searah, tapi percaya sampai berani berserah dan taat, walaupun belum lihat jawabannya. Pdt. Jusuf Roni ajak kita untuk tidak berhenti di tingkat percaya yang sepi hak dan tidak punya hubungan, tetapi naik ke tahap trust dan emuna yang relasional. Pesan yang aku tangkap: Tuhan bukan hanya mau kita kagum bahwa Dia hebat, tetapi juga mau kita punya hubungan pribadi yang nyata dengan Dia, yang paling sensitif dan lembut, memakai perasaan paling halus. Waktu beliau berkata, "Mari kita tingkatkan hubungan pribadi kita dengan Tuhan", buatku itu seperti rangkuman semua: iman yang sejati bukan hanya kata‑kata, tapi perjalanan sehari‑hari bersama Tuhan. Buat teman‑teman yang pernah dengar pengajaran serupa dari hamba‑hamba Tuhan lain, termasuk pdt seperti Pieter Faraknimella, menurutku khotbah ini bisa jadi pengingat kuat untuk mengecek lagi: selama ini kita baru believe, atau sudah benar‑benar trust dan hidup dalam emuna?


































