Dibentuk dan Dibangun | Ps.Debora Kristanto
Dalam membangun keluarga yang bahagia, selain doa dan keyakinan rohani, penting untuk memahami bahwa proses pembentukan karakter dan mental setiap anggota keluarga adalah kunci utama. Seperti yang disampaikan, mental tidak bisa diusir begitu saja seperti roh jahat, melainkan perlu dibentuk dan dilatih secara konsisten. Pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa membangun kebiasaan baik dalam keluarga, seperti komunikasi terbuka, saling menghargai, dan mendengarkan, merupakan bentuk pembentukan mental yang berdampak besar. Misalnya, ketika kita melatih anak-anak untuk sopan santun dan bertanggung jawab, ini bukan hanya sekadar aturan, tetapi bagian dari membentuk kepribadian mereka agar berhasil dalam kehidupan. Roh, jiwa, dan tubuh adalah kesatuan yang harus diperhatikan. Kasih yang tulus harus merasuk ke dalam jiwa dan akal budi agar bisa menghasilkan tindakan nyata dalam rumah tangga. Banyak keluarga yang hanya berfokus pada doa tanpa usaha membentuk mental dan karakter, sehingga kebahagiaan yang diimpikan sulit tercapai. Latihan rohani seperti bertobat, salibkan daging, dan pikul salib adalah proses membentuk karakter yang sejalan dengan nilai-nilai kasih dan pengendalian diri. Dengan membangun keluarga melalui pendekatan ini, hambatan mental dan sifat negatif dapat dikurangi, menjadikan kehidupan rumah tangga lebih harmonis dan penuh semangat. Jadi, membentuk keluarga bahagia bukan hanya tentang harapan dan doa saja, tetapi juga tentang pembentukan diri yang berkelanjutan. Melalui latihan mental dan membangun kebiasaan baik, keluarga dapat menjadi tempat yang penuh kasih, sukses, dan damai.






