Selalu SETIA...| Ps.Debora Kristanto
Waktu pertama kali dengar tentang Ps. Debora Kristanto, aku langsung kepo dan mulai cari-cari kisah lengkapnya. Ternyata bukan cuma soal kecelakaan waktu pelayanan, tapi tentang bagaimana dia benar-benar memilih untuk setia sampai akhir, sekalipun nggak semua orang mengerti jalan yang dia tempuh. Banyak orang kalau lihat ada hamba Tuhan mengalami musibah, responnya langsung menghakimi: pasti ada dosa, pasti Tuhan lagi hukum, dan sebagainya. Dari kesaksian tentang Debora ini, aku jadi diingetin kalau apa yang kelihatan di luar belum tentu sama dengan yang Tuhan lihat. Orang bisa ngomong apa saja, tapi yang Tuhan lihat itu hati dan kesetiaan. Bagian yang paling menyentuh buat aku adalah waktu diceritakan soal mimpi: Debi berlutut di hadapan Tuhan, bawa bunga, dan Tuhan mengambil bunga itu lalu memberikan mahkota. Bahkan digambarkan Debora memakai pakaian tamborin di hadapan Tuhan, dan Tuhan berkata, "Bagus anakKu, kamu telah menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik." Buat aku, ini bukan cuma kisah dramatis, tapi gambaran kalau hidup yang setia itu nggak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Aku juga sempat merenungkan bagian ketika timnya selamat dan dia yang meninggal. Di mata manusia, ini bisa jadi bahan gosip dan tuduhan, tapi justru di situ kelihatan siapa yang sungguh-sungguh percaya bahwa pembelaan sejati datang dari Tuhan. Sama seperti kisah Yusuf dengan istri Potifar yang sempat disinggung dalam kesaksian: sekalipun difitnah, dia memilih diam dan tetap berbuat benar, karena tahu hanya Tuhan yang bisa mengeluarkannya dari penjara. Dari cerita Ps. Debora Kristanto ini, aku pribadi jadi belajar beberapa hal praktis: 1. Pelayanan itu bukan soal seberapa terkenal, tapi seberapa setia. Debora melayani ke desa-desa, pelosok, doa, layani orang-orang yang mungkin nggak pernah masuk berita. 2. Karunia sederhana seperti main tamborin pun bisa dipakai Tuhan dengan luar biasa kalau dilakukan dengan hati yang benar. Di kesaksian disebut, "Tuhan hanya main tamborin" — tapi justru di situ Tuhan pakai dia. 3. Nggak semua hal perlu dibela di depan manusia. Kadang yang Tuhan mau adalah kita diam, tetap setia, dan biarkan Tuhan sendiri yang bela. Buat kamu yang lagi cari tahu tentang Debora Kristanto dan kisah "selalu setia" ini, mungkin kamu juga lagi bergumul soal panggilan, pelayanan, atau ketidakadilan yang kamu alami. Pengalaman pribadiku, waktu aku memilih tetap setia di bagian kecil yang Tuhan percayakan—meski nggak dilihat orang—ada damai yang nggak bisa digantikan apa pun. Kalau sekarang kamu merasa pelayananmu biasa saja, nggak dianggap, atau malah disalahpahami, ingat cerita Debora: Tuhan melihat setiap perjalanan ke desa-desa, setiap doa yang kamu naikkan, setiap air mata yang nggak ada yang tahu. Pada akhirnya, yang paling penting bukan penilaian manusia, tapi bagaimana Tuhan menyambut kita dan berkata, "Kamu telah menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik."





































