DALAM ISLAM WANITA TIDAK WAJIB BEKERJA

Hai lemonade 🍋

Perempuan tidak wajib bekerja dalam Islam karena Nafkah ditanggung laki-laki, bukan perempuan

lalu Perempuan boleh bekerja sesuai aturan dan Islam mengangkat derajat & menjaga kehormatannya.

Islam tidak pernah membatasi langkah perempuan.

Justru Islam memuliakannya dengan mengangkat beban finansial dari pundaknya.

Perempuan tidak wajib bekerja, namun boleh bekerja selama menjaga syariat.

Ini adalah bentuk kasih sayang Allah bukan larangan, bukan pembatasan.

QS. An-Nisa’ 4:34

HR. Bukhari (Kisah Asma’ binti Abu Bakar)

Semoga konten ini mengingatkan kita bahwa setiap peran perempuan di rumah ataupun di luar sana adalah mulia selama dijalani karena Allah.

🌸✨”

#AkuPernah#TipsDariUmurKu #TipsLemon8 #ViralTerbaru #SetujuGak @Lemon8 Family ✨ @Lemon8_ID @Lemon8Cantik

2025/12/8 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku juga sempat bingung soal ini: apakah perempuan itu sebenarnya wajib bekerja dalam Islam, atau justru lebih baik di rumah saja? Setelah belajar pelan-pelan, aku baru paham kalau kuncinya ada pada pembagian peran dan tanggung jawab, bukan soal siapa yang lebih mulia. Dalam Islam, yang wajib menafkahi keluarga adalah laki-laki: ayah, suami, atau wali. Ini termasuk biaya makan, tempat tinggal, pakaian, kesehatan, bahkan kalau istri hamil dan melahirkan. Istri tidak wajib mencari nafkah, maka ketika dia memilih tidak bekerja di luar rumah, itu bukan dosa dan bukan berarti dia malas. Justru dia sedang menjalankan peran utamanya sebagai istri dan (calon) ibu, dan itu pun sangat dimuliakan. Kodrat seorang laki-laki dalam Islam adalah menjadi qawwam, pemimpin dan penanggung jawab bagi perempuan sebagaimana dijelaskan di QS. An-Nisa’ 4:34. Bukan pemimpin yang sewenang-wenang, tapi yang melindungi, menafkahi, dan membimbing. Dari sini juga muncul prinsip laki-laki terhadap perempuan: mereka wajib berbuat baik, tidak boleh menzalimi, dan tidak boleh pelit dalam memberi nafkah. Perempuan sendiri punya kewajiban yang berbeda. Kewajiban wanita yang sudah menikah misalnya: taat pada suami selama bukan dalam maksiat, menjaga kehormatan diri, menjaga amanah rumah tangga dan anak, serta menjaga harta suami. Kalau dia memilih bekerja, niatnya bisa jadi ibadah selama tetap menjaga syariat: menutup aurat, menjaga adab dengan lawan jenis, mendapat izin wali atau suami, dan tidak mengabaikan kewajiban utama di rumah. Dari yang aku rasakan dan lihat di sekitar, ada perempuan yang bahagia menjadi ibu rumah tangga full di rumah, ada juga yang bahagia sambil bekerja di luar. Keduanya bisa mulia selama menjalankan peran karena Allah. Islam memberi kelonggaran dan pilihan: perempuan boleh tidak bekerja dan nafkahnya tetap menjadi tanggungan laki-laki, tapi kalau dia bekerja dengan cara yang halal dan sesuai syariat, itu juga bisa bernilai ibadah. Yang penting, kita tidak gampang menghakimi. Wanita yang tidak bekerja di luar rumah bukan berarti kurang berkontribusi. Justru mengurus rumah, suami, dan anak itu pekerjaan besar yang sering tidak terlihat. Sebaliknya, perempuan yang bekerja juga tidak otomatis salah, selama dia tidak melalaikan kewajiban dan tetap menjaga kehormatan. Dari sini aku belajar bahwa "perempuan tidak wajib bekerja" itu bukan kalimat untuk membatasi, tapi mengingatkan bahwa beban nafkah bukan di pundak perempuan. Kalau pun kita memilih bekerja, itu pilihan sadar, bukan paksaan, dan tetap dalam koridor yang diridhai Allah. Dengan memahami dalil tentang perempuan dan laki-laki ini, hati jadi lebih tenang menjalani peran masing-masing tanpa merasa terbebani standar orang lain.

9 komentar

Gambar a͓̽m͓̽o͓̽y͓̽ i͓̽m͓̽u͓̽t͓̽
a͓̽m͓̽o͓̽y͓̽ i͓̽m͓̽u͓̽t͓̽

betul Kaka .. tapi zaman sekarang kalo perempuan gak kerja ya laki laki suka semua nya kalo yg gak dapat suami yg gak bener 😂😂

Lihat lainnya(1)
Gambar OKTAVIANI🌻
OKTAVIANI🌻

aku ga kerja kak tapi pengen banget kerja biar bisa jajan sendiri hehe, bukan berarti dari suami kurang cuma yaa genak aja😂

Lihat lainnya(1)

Lihat komentar lainnya