dawuh gus kautsar
Aku pertama kali dengar dawuh KH. Abdurrohman Al-Kautsar atau yang sering disebut Gus Kautsar tentang "ketika kamu menjadi orang baik, kamu tidak perlu diakui oleh siapapun" itu pas lagi capek-capeknya sama penilaian orang. Rasanya semua yang kita lakukan selalu di-judge, bahkan niat baik pun kadang disalahpahami. Tapi kalimat itu nancep banget di hati: kalau memang kita yakin Allah SWT pasti akan mencatat sekecil apa pun kebaikan yang kita miliki, buat apa terlalu sibuk cari validasi manusia? Waktu itu aku mulai coba praktik pelan-pelan. Misalnya, bantu orang tua di rumah tanpa upload ke media sosial, sedekah diam-diam, atau sekadar senyum ke orang asing yang kelihatan capek. Awalnya terasa "nggak kelihatan" dan seperti nggak ada yang menghargai. Tapi justru di situ letak latihan ikhlas yang sering dijelaskan para kiai. Dawuh Gus Kautsar seakan mengingatkan, orang baik itu bukan yang paling terlihat, tapi yang hatinya paling tulus meski tak dikenal siapa-siapa. Aku juga jadi lebih hati-hati sama rasa ingin dipuji. Kadang kita bilang "ikhlas", tapi kalau nggak dapat ucapan terima kasih, hati jadi kesal. Dari situ aku belajar muhasabah: jangan-jangan selama ini aku berbuat baik bukan karena Allah, tapi karena ingin diakui orang. Padahal kalau Allah sudah mencatat, meski orang lain tidak sadar, pahala dan keberkahan tetap mengalir. Ini selaras dengan nasihat para ulama bahwa ridha Allah jauh lebih penting daripada pujian manusia. Dawuh seperti ini dari para kiai, termasuk KH. Abdurrohman Al-Kautsar, menurutku relevan banget buat zaman sekarang, di mana orang mudah sekali mengukur kebaikan dari likes dan views. Aku jadi berusaha menata niat setiap kali mau melakukan sesuatu: "Kalau nggak ada yang lihat, aku masih mau melakukan ini nggak?" Kalau jawabannya masih "iya", berarti insyaAllah itu kebaikan yang lebih mendekati keikhlasan. Jadi buat kamu yang lagi merasa lelah jadi orang baik karena sering disalahpahami atau diabaikan, ingat kata-kata yang sederhana ini: ketika kamu menjadi orang baik, kamu tidak perlu diakui oleh siapapun. Yang penting, Allah SWT pasti akan mencatat setiap kebaikan, sekecil apa pun yang kamu miliki. Dan sering kali, ketenangan hati setelah berbuat baik diam-diam itu jauh lebih berharga daripada seribu pujian manusia.


























