dawuh Gus Baha
Sebagai seorang yang pernah mendalami berbagai ajaran Islam dari tokoh-tokoh seperti Mbah Maksum, Mbah Ali, dan Mbah Hasyim, saya pernah merasakan betapa pentingnya sikap toleransi di tengah keberagaman praktik keagamaan. Gus Baha menegaskan bahwa mempertahankan NU bukanlah untuk membenci Muhammadiyah, melainkan lebih kepada menjaga tradisi dan ilmu yang diwariskan secara harmonis. Saya mengingat sebuah cerita dari Gus Ghofur yang juga sering membaca sejarah para ulama terdahulu. Mereka tidak pernah memandang perbedaan mazhab atau organisasi Islam sebagai alasan untuk berkonflik. Justru dari kisah Mbah Ahmad Dahlan dan Mbah Hasyim yang belajar dari para syekh di Minangkabau, terlihat bahwa sikap saling menghargai dan belajar adalah kunci utama dalam menjaga kedamaian umat. Selain itu, Gus Baha juga menyinggung persoalan yang sering kali memecah belah umat, yaitu perbedaan praktik seperti qunut dalam salat atau perbedaan adzan. Namun, beliau menekankan bahwa semua itu adalah bagian dari ilmu yang harus dipahami, bukan dijadikan identitas yang memicu perpecahan. Kita harus kembali menjadi pengagum ilmu, bukan pengagum perbedaan yang menimbulkan perseteruan. Dari pengalaman pribadi, saya juga belajar bahwa mendalami ilmu dengan hati terbuka membantu kita lebih mengerti dan menerima perbedaan. Bersikap agresif atau memusuhi pihak lain tidak akan membawa manfaat, seperti yang ditekankan oleh para ulama terdahulu. Kami diajarkan untuk tetap dalam bingkai ilmu dan sunnah wal jamaah, menjaga kedamaian dan persatuan antar umat. Berlandaskan dawuh Gus Baha ini, saya percaya bahwa umat Islam harus fokus pada pengembangan ilmu dan keimanan dengan kerangka toleransi yang kuat, sehingga perbedaan tidak menjadi jurang pemisah, melainkan kekayaan yang memperkuat ukhuwah islamiyah dan persatuan bangsa.






















