Alhamdulillah, dipercayai dalam Khazanah Ulama Nusantara (Potret 1000 Ulama Se-Nusantara) Episode ke-073
Biografi Singkat Abi Panton, yang memiliki nama lengkap T. Halim Tarmizi bin T. Bustami bin Cut Shaleh bin Cut Hasan bin Cut Ali, merupakan seorang tokoh muda yang dikenal sebagai kolektor sekaligus penulis kitab-kitab Arab Melayu. Ia lahir di Panton Labu pada 6 Agustus 1991 M, dan saat ini berdomisili di Dusun Cempaka, Desa Samakurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Negeri 2 Tanah Jambo Aye, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tanah Jambo Aye. Setelah itu, ia menempuh pendidikan keagamaan di berbagai dayah (pesantren) di wilayah Aceh, di antaranya Dayah Babul Khairat Samakurok, Dayah Babul Huda Samakurok, Dayah Budi Al-Waliyyah Pasee Tanjong Ara, serta Dayah Al-Madinatul Munawwarah Al-Waliyyah (Dayah AMAL) di Kampung Beusa, Peureulak Barat. Lingkungan pendidikan dayah inilah yang membentuk dasar keilmuan dan kecintaannya terhadap khazanah kitab klasik, khususnya Arab Melayu.
Dalam kiprahnya, Abi Panton dipercaya sebagai pimpinan Balai Pengajian Darul Istiqamah di Desa Samakurok. Di tempat inilah ia mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan dakwah, sekaligus melestarikan tradisi keilmuan Islam klasik di tengah masyarakat.
Sebagai penulis, kontribusinya sangat produktif. Ia telah menghasilkan berbagai karya, baik berupa penulisan asli maupun penulisan ulang (tahqiq dan transliterasi) kitab-kitab klasik. Beberapa karya pentingnya antara lain Kitab Fiqih Qurban Melayu, Sanad-Sanad Kitab Melayu, Risalah Bekal Akhlak, Risalah Adab Sehari-hari, Kitab Tajwid Melayu, serta Terjemah Uqudul Lujain Melayu. Selain itu, ia juga menulis Risalah tentang keutamaan Umrah dan Air Zamzam, serta melakukan penulisan ulang berbagai kitab seperti Kasyful Kiram, Kanzul Makrifah, Kitab Ushuluddin, Tuhfatul Raghibin, hingga Al-Manhalus Shafi.
Tidak hanya itu, ia juga aktif dalam pelestarian literatur lokal melalui karya seperti Mengenal Kitab Arab Melayu dan transliterasi Kitab Masailal Muhtadi dalam bahasa Aceh. Karya lainnya mencakup Hafalan Aqidah (I’tiqad 50) serta berbagai tulisan tentang keislaman praktis. Hingga saat ini, ia telah menghasilkan puluhan karya, dengan sekitar 45 kitab lainnya masih dalam tahap penyusunan.
Melalui dedikasi dan konsistensinya, Abi Panton menjadi salah satu figur penting dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan kembali warisan keilmuan Islam berbasis Arab Melayu kepada generasi masa kini.
___________
Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 073
Teuku Halim Tarmizi dari Aceh Utara
Satu demi satu, potret ini sedang diproses menjadi Digital Art Portrait.
Bukan sekadar gambar, tapi upaya mengabadikan wajah dan jejak ulama dalam karya visual.
Perjalanan menuju 1000 ulama Nusantara.
Masih panjang, dan akan terus bertambah.
📌 Sudah sampai episode berapa?
Lihat di profil, dan nantikan seri berikutnya.
* https://www.facebook.com/share/p/1E77NLkZpi/
* https://www.facebook.com/share/1G9V8ZNRR1/
Sebagai seseorang yang pernah menggeluti studi keagamaan dan melestarikan kitab-kitab klasik, saya sangat mengagumi dedikasi Abi Panton dalam mengembangkan khazanah ilmu Islam berbasis Arab Melayu. Seperti yang diceritakan dalam potret ini, kehadiran Abi bukan hanya sebagai penulis, tapi juga sebagai penghubung penting antara tradisi lama dan generasi modern. Pengalaman saya selama bergelut dengan studi kitab klasik, baik di Pesantren maupun dalam komunitas ulama, mengajarkan bahwa keterampilan dalam menulis ulang (tahqiq) dan menerjemahkan karya lama sangat vital agar ilmu tersebut dapat terus diakses dan dipahami oleh komunitas luas. Abi Panton telah melakukan hal ini dengan menghasilkan karya-karya seperti Kitab Fiqih Qurban Melayu, Risalah Bekal Akhlak, dan Kitab Tajwid Melayu yang sangat bermanfaat. Selain itu, kepemimpinannya di Balai Pengajian Darul Istiqamah menunjukkan bagaimana pendidikan tradisional di Aceh terus berkembang dengan sentuhan modern, sekaligus menjaga keaslian nilai-nilai keilmuan klasik. Ini menjadi bukti kekuatan komunitas lokal dalam meneruskan legasi Islam Nusantara. Saya juga tertarik dengan upaya digitalisasi potret para ulama seperti yang disebutkan dalam artikel. Pengalaman pribadi saya mengikuti beberapa proyek dokumentasi seni dan sejarah keagamaan, pembuatan Digital Art Portrait ulama dapat menjadi cara efektif mengenalkan tokoh-tokoh penting ini kepada generasi milenial dan Z yang sangat visual dan digital savvy. Melalui karya dan jasa para tokoh seperti Abi Panton, kita belajar bahwa pelestarian khazanah keilmuan Islam tidak hanya berhenti sebagai sejarah, tapi terus hidup dan berkembang seiring perubahan zaman, sangat relevan dengan kebutuhan masa kini. Ini sangat menginspirasi saya pribadi untuk terus mendukung pengembangan literatur lokal dan pemahaman ajaran Islam yang mendalam.














































