Se ling kuh itu takada yg benar2 berakhir bahagia
“Lagi ri but sama istri, Fiq?” tanya Makmun, teman akrabnya, sambil menyalakan ro kok.
Rafiq mende ngus.
“Pe re mpuan itu nggak pernah ngerti aku, Mun, cari kerja susah, capek, di rumah malah disuguhi wajah ce m berut, rasanya pengen ka bur jauh.”
“Yaa namanya juga pe rem puan, Fiq, sabar dikitlah, apa lagi istrimu sedang ha mil besar. Aku punya kabar baik nih, ada kerjaan baru,” sela teman lain yang duduk di samping Makmun.
Rafiq menoleh cepat.
“Maksudmu apa? Ada kerjaan buat aku?”
Makmun menye ri ngai.
“Kemarin aku dengar ada proyek di Cilegon, butuh banyak tenaga, gajinya lumayan, Fiq. Kamu bisa ikut kami besok.”
Mata Rafiq berbinar.
“Serius? Proyek apa?”
“Bangunan pabrik, kau tahu kan, di sana lagi butuh orang kuat buat angkut material. Aku bisa kenalin sama mandornya, gaji harian, tapi diambil bulanan,” jelas Makmun, meniupkan asap ro kok ke udara.
Rafiq menyandarkan tu buhnya ke kursi plastik, bi bi rnya tersungging senyum untuk pertama kali malam itu.
“Kalau beneran ada, aku mau, aku harus buktikan ke Hilma kalau aku masih bisa diandalkan, besok aku ikut kamu, Mun.”
“Bagus!” sahut Makmun sambil menepuk bahunya. “Kalau begitu, traktir dulu lah malam ini, anggap syukuran.”
Rafiq terkekeh kecil, rasa ke salnya pada Hilma sejenak mereda. Ia mero goh dompet dari saku celana, menarik selembar uang seratus ribuan.
“Nih, aku traktir, kopi, mie instan, rokok, semua ambil, malam ini aku yang bayar.”
“Wih, mantap! Hidup Rafiq!” seru teman-temannya bersorak kecil.
Obrolan mereka berlanjut dengan canda tawa, mereka bicara tentang masa depan yang seolah cerah, tentang gaji besar, tentang rumah idaman yang mungkin tak pernah akan mereka miliki. Semuanya hanyalah khayalan yang menguap bersama asap ro kok di udara.
Satu per satu teman-temannya pulang, malam makin larut, warung kopi makin sepi. Tinggal Rafiq yang masih duduk, sesekali menghen takkan ro kok di asbak, matanya sayu tapi da da nya masih penuh a ma rah, bayangan wajah Hilma terlintas.
“Kenapa sih per-empuan itu selalu bikin aku merasa nggak ber guna?” gumamnya lirih, meneguk kopi dingin di gelas.
Dari balik meja, seorang perempuan mendekat dengan senyum meng go da. Lisa, pemilik warung, ja-nda yang dikenal ge nit di kampung itu. Rambutnya dibiarkan tergerai, bi bi rnya merah karena lipstik murah yang mengilap di bawah lampu.
“Mas Rafiq belum mau pulang?” suara Lisa lembut, mendekat sambil membawa teko kopi.
Rafiq melirik malas.
“Belum ngantuk, lagian di rumah juga nggak ada e naknya.”
Lisa tertawa kecil.
“Ah, Mas ini… ngomongnya selalu bikin penasaran, istrinya kan lagi ha mil, ya? Pantas sering kelihatan mu rung.”
“Jangan bahas dia.” Rafiq menepuk meja, matanya menyipit. “Aku mu ak kalau ingat.”
Lisa duduk di kursi seberang, menatap Rafiq lekat-lekat.
“Kalau capek disi a-si akan istri, Mas bisa cari hiburan di tempat lain. Hidup jangan terlalu dibikin susah, ba dan butuh senang juga.”
Rafiq menelan ludah, da danya pa nas, pikirannya bercampur aduk antara ma rah dan se pi.
“Maksudmu… hiburan apa?”
Lisa tersenyum penuh arti, mendekatkan wajahnya, suaranya nyaris berbisik.
“Mas paham sendiri lah, sudah lama, kan, nggak dapat perhatian? Aku bisa bikin Mas lupa sama semua masa lah.”
Rafiq terdiam, tangannya erat menggenggam gelas kopi, sementara bayangan Hilma ha mil besar menunggu di rumah muncul sekilas. Tapi rasa ke ce wa, ke sal, dan ama rah pada Hilma lebih kuat.
“Berapa?” tanyanya singkat, suaranya serak.
Lisa mengedip na kal.
“Nggak mahal, tiga ratus ribu cukup, anggap saja harga untuk melupakan lu ka ha ti sema lam.”
Rafiq menunduk, menatap dompetnya. Di dalamnya ada tiga lembar seratus ribu, uang yang seharusnya akan ia berikan kepada Hilma untuk belanja besok.
=================
Judul Novel: Penyesalan di Ujung Kesetiaan Istriku
Penulis: Dian Kinanthi
Novel kBM app only




















































