Ada yang merasa keuangan rumah tangga kayak roller coaster? Kadang stabil, tapi sering banget ngerasa bokek di tengah bulan? Sini, aku bisikin rahasianya!👆
Jujur, keseharian ku sebagai ibu rumah tangga sering dihadapkan dengan tantangan mengatur uang. Aku juga #PernahBokek sampai bingung mau beli apa-apa. Tapi setelah menerapkan 3 prinsip diatas, aku jadi lebih tenang. Kuncinya bukan cuma soal berapa yang kita hasilkan, tapi seberapa baik kita mengaturnya.
Yuk, coba terapin 3 tips ini di rumah! Sharing dong best, kalau kamu punya tips lain untuk mengatur keuangan! 💖
... Baca selengkapnyaSebagai keluarga dengan pendapatan yang bisa dibilang pas-pasan, aku dulu sering banget ngerasa, "kok uang cepet banget habis ya?" Padahal kalau dihitung-hitung, pendapatan primer tiap bulan sebenarnya cukup. Ternyata masalahnya ada di cara aku mengatur keuangan keluarga, bukan cuma di jumlah uangnya.
Hal pertama yang aku ubah adalah cara melihat pendapatan primer. Begitu gajian masuk, aku langsung anggap itu sebagai angka mentah yang harus dibagi-bagi, bukan uang bebas yang bisa dipakai sesuka hati. Dari total pendapatan, sekitar 50% benar-benar aku kunci untuk kebutuhan pokok: belanja bulanan, sewa/kPR, listrik, air, kuota, dan transport. Biar lebih rapi, aku pecah lagi: berapa maksimal untuk belanja harian, berapa untuk bensin/ongkos, dan jangan sampai lewat batas itu.
Awalnya berat, apalagi waktu belanja bulanan, pingin ini-itu. Tapi aku mulai bikin prioritas: mana yang bener-bener kebutuhan primer dan mana yang cuma keinginan. Misalnya, sabun, beras, telur itu wajib. Snack berlebihan, kopi kekinian, atau jajan online aku kurangi pelan-pelan. Aku juga mulai bandingin harga di beberapa toko atau marketplace, dan jujur ini lumayan bantu hemat.
Setelah kebutuhan pokok aman, aku paksa diri untuk tetap konsisten nabung. Bahkan kalau cuma 10% dari pendapatan, nggak masalah, yang penting rutin. Aku bedain antara tabungan biasa dan dana darurat. Dana darurat ini targetnya pelan-pelan sampai 3–6 kali pengeluaran bulanan. Jadi kalau suatu saat suami sakit, kehilangan kerja, atau ada kebutuhan mendadak, kita nggak langsung panik minjem sana-sini.
Supaya nabungnya kepegang, aku pakai rekening terpisah khusus tabungan. Begitu gajian masuk, aku langsung transfer sesuai persentase yang sudah ditentukan. Jadi nggak sempat kepakai buat hal yang nggak penting. Kadang aku juga pakai amplop fisik untuk pos-pos tertentu, misalnya amplop "belanja harian", "transport", dan "jajan". Kalau amplopnya kosong, artinya memang sudah harus stop belanja di pos itu.
Tapi jujur, mengandalkan pendapatan primer saja sering masih mepet. Dari situ aku mulai kepikiran untuk cari pendapatan tambahan alias side hustle. Nggak harus yang besar dulu, yang penting realistis dengan kondisi IRT. Aku pernah coba jualan makanan kecil ke tetangga, buka pre-order kue kering waktu lebaran, sampai coba jual barang preloved di online marketplace. Lumayan, hasilnya bisa masuk ke pos tabungan atau dana darurat.
Kunci cari pendapatan tambahan buat keluarga dengan gaji pas-pasan adalah manfaatin skill yang sudah kita punya. Kalau suka nulis, bisa coba jadi freelance writer. Kalau jago desain, bisa buka jasa desain simpel. Kalau senang masak, bisa jualan menu harian di sekitar rumah. Jangan remehkan penghasilan kecil, karena kalau konsisten, efeknya kerasa banget di keuangan rumah tangga.
Sekarang, walaupun pendapatan keluarga kami belum besar, aku jauh lebih tenang. Aku tahu ke mana uang pergi setiap bulan, kebutuhan pokok keurus, ada sedikit tabungan, dan pelan-pelan dana darurat mulai terbentuk. Buat kamu yang juga lagi belajar mengatur keuangan keluarga dengan pendapatan pas-pasan, pelan-pelan saja. Mulai dari catat pengeluaran, tentukan persentase untuk kebutuhan pokok, tabungan, dan jajan, lalu kalau bisa, cari pendapatan tambahan yang sesuai kemampuan. Yang penting konsisten dan jangan mudah menyerah.