... Baca selengkapnyaKalau lihat foto duit 200 ribu di tangan, dulu aku suka mikir, "Yaampun, ini bisa buat apa aja sih dalam seminggu?" Apalagi kebutuhan rumah tangga makin mahal. Tapi setelah coba disiplin pakai metode 5-5-90, ternyata duit 200 ribu ini bisa banget diakalin buat hidup seminggu, bahkan masih bisa nabung tipis-tipis.
Jadi gini biasanya aku atur. Begitu terima uang 200ribu, aku langsung pisahin dulu 5% pertama (10 ribu) buat tabungan. Bener-bener aku singkirin di awal, misalnya masuk ke celengan khusus atau amplop kecil yang nggak boleh diganggu. Ini tuh lebih ke latihan mindset, biar kebiasaan duluin nabung daripada nunggu “kalau ada sisa”. Nyatanya, kalau nunggu sisa mah hampir nggak pernah ada, kan bund? 😅
Lalu 5% kedua (10 ribu) aku jadikan dana darurat. Ini juga aku pisahin di amplop lain, misalnya buat jaga-jaga kalau gas lpg mendadak habis sebelum jadwal atau ada kebutuhan mendesak kayak obat, tambal ban, atau kepepet lain. Dana darurat kecil gini kerasa banget manfaatnya, jadi nggak terlalu panik kalau ada pengeluaran tiba-tiba dalam 1–2 minggu.
Sisa 90% (180 ribu) baru aku pakai buat kebutuhan rumah tangga. Karena di kasusku beras, listrik, dan jajan anak-anak itu sudah ada pos lain, 180 ribu ini fokus ke lauk-pauk, sayur, bumbu dapur, dan kebutuhan dasar lain. Triknya, aku suka bagi per hari biar kebayang batasnya. Misalnya 180 ribu dibagi 6 hari, berarti sekitar 30 ribu/hari dan 1 hari bebas belanja (masak stok di kulkas atau olah sisa). Dengan cara ini, aku lebih gampang nahan diri buat nggak jajan sembarangan.
Aku juga belajar buat bedain antara keinginan dan kebutuhan. Kalau lagi pegang uang cash, godaan tuh banyak banget: pengin kopi kekinian, camilan, atau jajan online. Biasanya aku tanya ke diri sendiri, "Kalau nggak beli ini, hidupku bakal sengsara nggak?" Kalau jawabannya nggak, ya udah tahan dulu. Duit 200 ribu di tangan kerasa lebih "bernilai" kalau kita tahu tiap lembar mau dialihin ke mana.
Tips lain, aku suka foto duit 200 ribu di awal minggu, terus di akhir minggu aku cek lagi: bener nggak alokasinya sesuai rencana? Kalau meleset, aku catat, misalnya: kebanyakan jajan, salah perhitungan harga sayur, atau kebobolan beli makanan siap saji. Dari situ pelan-pelan aku perbaiki di minggu berikutnya.
Intinya, berapa pun nominalnya—duit 200, 200 ribu, atau lebih—rumus ini masih bisa dipakai. Tinggal disesuaikan sama kondisi keluarga masing-masing. Yang penting kita punya rencana, disiplin dikit, dan siap fleksibel kalau realita nggak selalu semulus teori. Kamu sendiri biasanya kalau pegang 200 ribu di tangan, dipakai buat apa duluan, bund?
aku pengen gitu direncanakan, tapi ujung-ujungnya loss kak😭