Jujur, ada kalanya sebagai orang tua, aku merasa sangat lelah hingga emosi sudah di ujung tanduk. Anak rewel, pekerjaan menumpuk, rumah berantakan—semua terasa seperti bom waktu. Puncaknya, aku bisa merasa ingin melampiaskan kekesalan pada si Kecil😖
Momen gelap ini disebut Parental Burnout, dan itu nyata serta tidak boleh diabaikan.
Merasa lelah hingga titik terendah adalah respons alami terhadap stres kronis. Itu tidak menjadikan kita orang tua yang buruk. Mengakui bahwa kamu sedang burnout dan mencari bantuan adalah tindakan terkuat yang bisa dilakukan untuk dirimu dan anakmu best.
Ingat, kita bukan orang tua Gagal❗
Aku selalu prioritaskan me-time: Walau hanya 15 menit, gunakan waktu itu untuk melakukan sesuatu yang disuka, seperti minum teh anget, dengarkan musik, atau meditasi singkat. Isi ulang energi, karena kita tidak bisa menuang dari cangkir yang kosong.
Kapan terakhir kamu ambil me-time best?
Siapa yang setuju juga kalau jadi orang tua itu butuh "cuti" dan support system yang kuat? yukk sharing🤗
... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku juga nggak ngerti kalau yang aku alami ternyata namanya parental burnout. Kukira cuma "capek biasa" jadi ibu. Tapi lama-lama kok rasanya beda: capeknya nempel tiap hari, mudah kebakaran jenggot, dan kadang jadi orang tua yang aku sendiri nggak kenal.
Buat yang masih bingung, burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang berkepanjangan karena tekanan terus-menerus. Kalau dikaitkan dengan pengasuhan, sering disebut parenting burnout atau parental burnout. Jadi parental burnout adalah saat kita sebagai orang tua sudah kelelahan di level yang sangat dalam, sampai susah menikmati momen bersama anak.
Beberapa tanda yang aku rasain dan mirip banget sama tulisan di ilustrasi "Hati-Hati!! Ini Tanda Kamu Kena Parental Burnout":
1. Kelelahan mendalam
Bukan cuma capek habis beberes, tapi bangun tidur pun rasanya sudah lelah duluan. Badan ada, tapi jiwa kayak ngga hadir.
2. Jarak emosional dengan anak
Pernah nggak sih, anak cuma minta ditemenin main, tapi kita malah pengen menjauh, pengen sendiri aja? Bukan karena nggak sayang, tapi karena isi kepala udah penuh banget.
3. Perasaan negatif dan merasa kehilangan kendali
Mulai sering ngomel, gampang meledak, kadang keluar kata-kata yang setelahnya bikin nyesel. Di titik ini aku pernah sampai mikir, "Aku ini orang tua macam apa?" Padahal kalau ditarik mundur, akar masalahnya ya kelelahan yang menumpuk.
Aku juga sempat ngerasa orang tua zaman dulu atau orang di sekitar nggak selalu mengerti perasaan anak maupun perasaan kita sebagai orang tua. Kadang mereka cuma ngomong, "Namanya juga ibu, ya sabar," tanpa benar-benar paham seberapa berat rasanya. Dari situ aku belajar: jangan sampai siklus ini keulang. Aku nggak mau jadi orang tua yang menyepelekan perasaan anakku nanti.
Sekarang, selain me-time 10–15 menit, aku coba beberapa hal kecil:
- Belajar bilang "tolong" dan "butuh bantuan" ke pasangan/keluarga. Bukan berarti lemah, tapi sadar kalau kita juga manusia.
- Menurunkan standar rumah harus selalu rapi. Kadang pilih main sama anak dan terima kalau rumah agak berantakan.
- Validasi perasaan diri sendiri: "Aku capek, dan itu wajar," bukan malah menyalahkan diri.
Buat kamu yang lagi merasa jadi "budak galau" versi orang tua 2026, ngerasa sendirian, atau punya orang tua yang dulu nggak mengerti perasaanmu, kamu nggak sendirian. Parental burnout itu nyata, tapi bisa pelan-pelan diurai. Kita belajar bareng jadi orang tua yang cukup baik, bukan sempurna. Yuk, cerita di kolom komentar: bagian tersulit dari jadi orang tua buat kamu apa?
aku pernah kak ya Allah nyesel bgt😭