Melepas Hafa Jumpa Pembaca di Stasiun Juanda
Mungkin cuma sesama penulis yang ngerti perasaan ini.
Dears, kalau kamu bertemu novel Hafa dan Seporsi Cinta Pilihan Baba di Stasiun Juanda, kabarin Ka Acha yaaa.
🌸 BLURB 🌸
Hafa memang baru 23 tahun. Tapi bisa-bisanya Baba menjalankan aksi untuk lekas menikahkan Hafa dengan lelaki siapa entah yang Hafa nggak tahu clue-nya sama sekali, selain nama samarannya yang Baba sebut sebagai La Hanu. Sudah begitu, Baba mengkoordinir Bang Haikal dan Bang Haris buat main rahasia-rahasiaan sama Hafa.
Baba tega. Sementara semua abangnya dibebaskan memilih calon pasangan masing-masing, Hafa malah dipilihkan tanpa diajak bicara lebih dulu. Apa alasan Baba cuma biar tetap ada cucunya yang pure blood Dou Mbojo alias asli berdarah Bima, gitu?
Apa begini cara Baba mendukung karier Hafa yang fokus angkat menu dan budaya Bima di konten-kontennya sebagai food and lifestyle creator yang lahir dan besar di tanah rantauan kedua orangtuanya?
#authorlife #writerlife #hafadanseporsicintapilihanbaba #akaruicha #halalromance
Sebagai penulis dan pembaca novel karya lokal, saya selalu merasa momen bertemu dengan pembaca adalah sebuah kebahagiaan dan sekaligus tantangan tersendiri. Dalam cerita Hafa ini, banyak hal yang bisa kita renungkan tentang bagaimana tradisi dan kebudayaan daerah – seperti yang diangkat dari darah Bima Dou Mbojo – turut membentuk karakter dan jalan hidup seseorang. Pengalaman saya pribadi sering berkunjung ke stasiun atau tempat umum lainnya untuk membagikan buku saya, dan melihat langsung respons dari pembaca. Ada rasa haru saat melepas karya kita untuk dinikmati orang lain, seperti yang digambarkan pada gambar yang menyebut "Beginilah kalau Ibu (penulisnya) melepas anaknya (karyanya) demi berjumpa dengan pembaca." Perasaan ini mirip dengan melepaskan bagian diri kita yang sangat personal untuk disambut oleh orang asing yang punya pandangan berbeda. Novel ini juga mengajak kita menyelami dinamika budaya di tengah modernitas, terutama soal tradisi menikahkan anak yang masih berlangsung. Baba yang memilihkan calon suami untuk Hafa bisa jadi simbol tekanan keluarga dan harapan keturunan yang masih kuat di banyak komunitas. Namun, Hafa yang mengambil peran sebagai kreator konten tentang budaya Bima juga menunjukkan bagaimana generasi muda bisa mempertahankan warisan budaya sembari beradaptasi di dunia luas. Saya rasa penggabungan cerita dan setting di tempat nyata seperti Stasiun Juanda ini memberikan sentuhan yang sangat relatable bagi pembaca Indonesia, yang kerap bertransisi antara dunia tradisional dan urban. Jika kamu menemukan buku ini di Stasiun Juanda, jangan ragu untuk berbagi kabar ke penulis — seperti ajakan dalam cerita yang sangat hangat dan personal ini. Sebuah pengalaman yang tidak hanya soal membaca, tapi juga berbagi cerita dan mempertemukan jiwa dalam tiap halaman novel.


































