... Baca selengkapnyaAku jadi makin mikir soal istilah "siri" yang sering dipakai orang. Dalam bahasa Indonesia, nikah siri itu kan pernikahan yang sah menurut agama, tapi nggak dicatat secara resmi di negara. Banyak yang pakai alasan "biar terhindar dari zina", padahal kalau niat dan sikapnya masih main belakang, ya ujung-ujungnya tetap menyakiti orang lain.
Dari beberapa kasus yang aku lihat, termasuk yang lagi viral di podcast itu, pola masalahnya mirip: ada hubungan yang belum beres, tapi sudah buru-buru nikah siri lagi dengan orang lain. Akhirnya muncul perselingkuhan di balik tabir, manipulasi, gaslighting, sampai bikin pasangan (atau mantan pasangan) merasa dirinya yang salah terus. Di depan kamera bisa aja keliatan nangis, minta maaf, tapi kalau sikap aslinya tetap nggak transparan, itu cuma drama.
Aku pribadi pernah ada di posisi melihat orang dekat nikah siri dengan alasan agama. Di awal semuanya dibungkus kata-kata manis: mau hijrah, mau serius, takut zina. Tapi setelah jalan beberapa bulan, mulai kelihatan red flag: dikontrol, nggak boleh terbuka ke orang lain, status hubungan nggak jelas, kalau ditanya soal legalitas di KUA selalu dibilang "nanti aja, sabar". Ujungnya, yang perempuan yang harus nanggung malu dan sakit hati.
Menurutku, kalau bener-bener niat ibadah dan mau menghindari zina, harusnya ada keberanian buat bertanggung jawab secara penuh: ke keluarga, ke pasangan yang lama (kalau masih terikat), dan ke negara. Bukan malah sembunyi di balik kata "siri" supaya bisa punya hubungan lain tanpa banyak orang tahu. Itu bukan sekadar masalah status hukum, tapi juga kejujuran dan komitmen.
Buat teman-teman yang sekarang lagi deket sama seseorang yang ngajak nikah siri, apalagi kalau kondisinya masih rumit (dia masih punya pasangan, lagi proses cerai, atau banyak hal yang ditutupi), coba benar-benar dipikirin ulang. Dengerin intuisi sendiri, perhatiin red flag: suka ngatur, nggak konsisten ngomong, susah diajak terbuka, atau cuma minta maaf ke satu pihak tapi mengabaikan yang lain. Hal-hal kecil itu sering jadi tanda awal manipulasi.
Aku nggak anti nikah siri secara konsep, karena di Indonesia sendiri praktik itu ada dalam budaya dan agama. Tapi yang bikin sedih adalah ketika nikah siri dijadiin tameng buat melegalkan perselingkuhan dan hubungan toxic. Dampaknya bukan cuma ke pasangan yang disakiti, tapi juga ke anak, keluarga, dan citra agama itu sendiri.
Kalau kamu pernah di posisi serupa—diselingkuhi dengan dalih nikah siri, atau dibujuk nikah siri dengan alasan "menghindari zina"—kamu nggak sendirian. Kita boleh kok marah, jijik, dan kecewa lihat perilaku manipulatif kayak di podcast-podcast viral itu. Semoga ke depan kita semua lebih peka sama red flag, lebih berani bilang tidak, dan nggak gampang luluh sama air mata yang cuma dipakai buat nutupin perselingkuhan di balik tabir.