... Baca selengkapnyaJujur aja, nggak semua orang menyambut Ramadhan dengan hati yang sudah siap 100%. Ada yang masih bergelut dengan overthinking, kecemasan, luka lama, bahkan capek sama diri sendiri. Aku pun pernah ada di fase itu: Ramadhan datang, tapi hati rasanya belum pulih, masih berantakan dan bertanya-tanya, "Aku ini pantas nggak, sih, dekat sama Allah dalam kondisi begini?"
Yang pelan-pelan aku pahami, ternyata kita nggak harus selesai berjuang dulu baru boleh datang ke Allah. Justru Ramadhan itu salah satu momen terbaik buat bawa semua lelah dan rasa "masih berjuang" itu ke hadapan-Nya. Kalau pikiranmu sering ramai, gampang cemas, dan hati cepat lelah, Ramadhan tetap tempatmu kembali. Kamu nggak perlu pura-pura kuat, cukup jujur sama keadaanmu.
Cara praktis yang aku lakukan waktu hati lagi berat: aku turunkan standar. Bukan berarti males ibadah, tapi fokus ke konsistensi kecil yang realistis. Misalnya, kalau baca Qur’an satu juz terasa berat, aku mulai dari setengah halaman tapi tiap hari. Kalau shalat sunnah panjang terasa susah, aku mulai dari dua rakaat tapi sungguh-sungguh. Ternyata langkah kecil yang jujur justru lebih bertahan dan bikin hati pelan-pelan tenang.
Aku juga belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut. Kalau lagi kumat overthinking atau sedih tanpa alasan jelas, aku izinkan diri istirahat sebentar, tarik napas dalam, lalu ngobrol sama Allah apa adanya. Doanya nggak perlu indah, yang penting jujur: cerita kalau aku masih berjuang, masih sering jatuh, masih sering lupa. Dalam satu hadits disebutkan Allah sangat gembira saat hamba-Nya kembali bertaubat, bahkan lebih gembira daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah padang pasir. Itu menguatkan aku: ternyata Allah sesenang itu setiap kali kita kembali, meski langkah kita pelan dan penuh ragu.
Kalau kamu sekarang lagi di fase hidup yang berat, merasa tertinggal dari orang lain yang tampak lebih rajin ibadah atau lebih kuat imannya, ingat: perjalanan setiap orang beda. Nggak apa-apa kalau kamu masih berjuang. Nggak apa-apa kalau air matamu sering jatuh. Nggak apa-apa kalau kamu baru bisa melangkah sedikit. Yang penting, jangan berhenti kembali.
Ramadhan ini, mungkin kita nggak bisa langsung berubah total. Tapi kita bisa mulai dari satu hal kecil: jaga shalat wajib, baca satu ayat, sedekah seribu rupiah, atau sekadar menahan satu kalimat kasar yang biasanya keluar. Dari situ, hati pelan-pelan akan merasa lebih dekat, lebih diterima, dan lebih ringan menjalani perjuangan.
Buat kamu yang masih berjuang: kamu nggak sendirian. Ramadhan datang juga untukmu, untuk hati yang masih belajar pulih, masih cari arah, dan masih belajar percaya bahwa Allah benar-benar sayang, bahkan di titik terlemahmu.
insyaallah THN ini aku fokus Kaka ibadah nya