Lemon8Komunitas gaya hidup

Send To

Line
Facebook
WhatsApp
Twitter
Salin tautan

Dapatkan pengalaman lebih lengkap di aplikasi

Temukan lebih banyak postingan, hashtag, dan fitur di aplikasi.

Buka Lemon8
Buka Lemon8
Buka Lemon8
Jangan sekarang
Jangan sekarang
Jangan sekarang
  • Kategori
    • Untuk Anda
    • Beauty
    • Skincare
    • Fashion
    • Travel
    • Food
    • Home
  • Versi aplikasi
  • Bantuan
  • Indonesia
    • Indonesia
    • 日本
    • ไทย
    • Việt Nam
    • Malaysia
    • Singapore
    • US
    • Australia
    • Canada
    • New Zealand
    • UK
Situs web resmiKebijakan privasiPersyaratan LayananCookies Policy
Kadang kita merasa sudah sering berdoa, menulis afirmasi, bahkan menuliskan mimpi dengan penuh semangat. Tapi tanpa sadar, hati kita belum benar-benar tenang saat mengucapkannya. ‎ ‎Banyak perempuan—termasuk aku dulu—rajin menulis doa dan harapan. Namun di saat yang sama masih ada rasa takut, mer
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Banyak ibu merasa marahnya datang tiba-tiba saat anak berbuat salah. ‎Padahal sering kali… bukan karena anaknya. ‎Tapi karena emosi ibu sudah lama menumpuk tanpa sempat dilepas. ‎ ‎Akhirnya yang terjadi: suara jadi meninggi, ‎anak ikut melawan atau menutup diri, ‎hubungan terasa menjauh. ‎D
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Pernah merasa… ‎rezeki kayak cuma “numpang lewat”? ‎Kerja capek. ‎ ‎Usaha sudah maksimal. ‎Tapi tabungan rasanya tetap segitu-segitu saja. 🥺 ‎ ‎Dulu aku pikir penyebabnya selalu di luar: ‎harga naik, peluang sempit, keadaan sulit. ‎ ‎Sampai akhirnya aku sadar satu hal… ‎kadang penghamba
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Buibu… coba save postingan ini ya. Simpan buat dibaca lagi saat hati mulai lelah. ‎Kalau merasa relate, boleh juga share ke buibu lain atau ke pasangan supaya sama-sama saling menguatkan. 🤍 ‎ ‎Kadang fase ini memang berat. ‎Capeknya bukan cuma di badan, tapi juga di hati. ‎ ‎Lihat kebutuhan
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Pernah kepikiran nggak, ‎kalau konten sesimpel itu aja bisa jadi uang… ‎kenapa kamu masih berdiri di tempat yang sama? ‎ ‎Atau jangan-jangan, ‎bukan karena nggak mampu— ‎tapi karena takut kalah cepat sama ibu-ibu lain yang nekat duluan. ‎ ‎Ironisnya begini: ‎Capek ngurus rumah? Normal. ‎
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Banyak perempuan mengira ‎rasa terkekang baru muncul setelah menikah. ‎Setelah jadi ibu. ‎Setelah peran makin banyak. ‎ ‎Padahal sering kali… ‎benihnya sudah tumbuh sejak lama. ‎ ‎Sejak kita kecil. ‎Saat kita belajar jadi anak “baik-baik”. ‎Tidak merepotkan. ‎Tidak membantah. ‎Tidak ba
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Wahai suami, ‎saat istrimu berutang, jangan langsung menuduh dia boros. ‎Sering kali bukan karena dia gagal mengatur, ‎tapi karena dia sendirian menghadapi hidup. ‎ ‎Dia tak ingin berutang. ‎Dia terpaksa. ‎Karena yang kamu bawa pulang sering kali hanya lelah, ‎bukan solusi. ‎ ‎Saat dapur
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Kadang jadi perempuan itu rasanya selalu di posisi salah. ‎ ‎Uang belanja menipis, yang pertama ditanya bukan lelahnya, tapi kesalahannya. ‎ ‎Padahal tiap hari, ada istri yang sibuk bandingin harga, nahan keinginan, ngalah demi kebutuhan anak. Ada istri yang deg-degan tiap masuk tanggal tua.
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Aku dulu sering menyalahkan keadaan. ‎Anak rewel. ‎Rumah tak pernah rapi. ‎Waktu terasa selalu kurang. ‎ ‎Kupikir itulah alasan emosiku meledak. ‎ ‎Sampai akhirnya aku jujur pada diri sendiri— ‎yang sebenarnya kelelahan… aku. ‎ ‎Lelah yang tak pernah terlihat. ‎Lelah memendam perasaan.
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Banyak suami sebenarnya sedang takut. ‎Takut nggak mampu. ‎Takut dianggap gagal. ‎Takut diremehkan lingkungan. ‎ ‎Sayangnya, rasa takut itu sering berubah jadi ucapan yang melukai. ‎Bukan doa yang keluar, ‎tapi keluhan. ‎Bukan apresiasi, ‎tapi perbandingan. ‎ ‎“Kan aku yang cari uang.”
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Tiga tahun kerja bareng atasan keturunan Tionghoa, ‎dan satu kalimatnya masih nempel sampai sekarang. ‎ ‎Dia bilang pelan tapi nusuk: ‎“Kalau keuanganmu mampet, jangan sibuk ngejar uangnya.” ‎ ‎Aku refleks pengen bantah. ‎Lah, hidup istri dan ibu itu isinya tagihan. ‎Bukan wishlist liburan
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Pernah nggak merasa lelah jadi ibu itu ‎nggak cuma pegal di badan, ‎tapi penuh di kepala ‎dan sesak di dada? 🤍 ‎ ‎Karena hampir semua hal larinya ke ibu. ‎Anak tanya—ibu. ‎Anak bingung—ibu. ‎Anak cari aman—ibu. ‎Ibu jadi pusat, tanpa jeda. ‎ ‎Masalahnya, lelah yang terus dipendam ‎ngga
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Melahirkan bukan akhir perjuangan. ‎Justru di sanalah fase paling sunyi sering dimulai. ‎ ‎Badan masih nyeri, ‎tidur terputus, ‎emosi naik turun tanpa alasan jelas. ‎Semua orang fokus ke bayi, ‎tapi sedikit yang benar-benar bertanya: ‎“Kamu capek nggak?” ‎ ‎Kelelahan pasca persalinan itu
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Bertahun-tahun jadi istri dan ibu, ‎aku baru jujur pada diri sendiri… ‎ ‎Aku merasa sudah melakukan segalanya. ‎Bangun paling pagi, tidur paling akhir. ‎Ngurus rumah, anak, suami—sering lupa diri sendiri. ‎ ‎Tapi kenapa ya… ‎rezeki rasanya selalu pas-pasan? ‎Belum akhir bulan, dompet suda
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Ada masa setelah melahirkan di mana ibu mudah menangis, cepat lelah, dan emosinya naik turun— ‎padahal baru saja melalui momen yang katanya “paling membahagiakan”. ‎ ‎Inilah yang sering disebut baby blues. ‎Biasanya muncul di awal-awal hari setelah persalinan, saat tubuh, hormon, dan peran bar
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎“Kenapa hal sepele saja bisa bikin aku meledak?” ‎ ‎Aku dulu mengira itu sifat bawaan. ‎Tapi ternyata, ada luka lama yang belum sembuh. ‎Tumbuh dengan bentakan dan tuntutan membuat hatiku terbiasa siaga, bukan tenang. ‎ ‎Saat marah pada anak, yang sebenarnya sedang menangis… ‎adalah diriku
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

Aku pernah ada di fase itu. ‎Merasa paling letih. ‎Paling banyak memberi. ‎Paling jarang diapresiasi. ‎ ‎Bangun sebelum subuh. ‎Tidur setelah semua beres. ‎Urus anak, rumah, pasangan—tanpa jeda. ‎ ‎Tapi yang paling sibuk justru lisanku. ‎Isinya keluh kesah dan perbandingan. ‎Kupikir itu
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎“Hati-hati, Bun… ‎apa yang kita tanam di ingatan anak hari ini, ‎akan tumbuh jadi cara ia memperlakukan diri—dan kita—di masa depan.” ‎ ‎Teriakan mungkin berhenti hari ini, ‎tapi bekasnya bisa tinggal lama di hati anak. 🤍 ‎ ‎Kalau Bunda ingin belajar mendidik anak tanpa teriak, ‎dengan car
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

#MomenBerharga ‎ ‎Baca pelan-pelan yaa 🤗 ‎ ‎Doa ini bukan sekadar permintaan. ‎Tapi seruan dari hati yang paling dalam, ‎yang mengguncang langit dan mengetuk pintu rahmat-Nya. ‎ ‎Rasulullah pernah mengajarkannya. ‎saat beliau, dan umatnya, berada di titik paling sulit. ‎ ‎اللَّهُمَّ إِن
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

‎Apa yang Bunda rasakan saat menonton video ini? ‎ ‎Bukan sekadar kaget. Sering kali, di balik emosi yang meledak ada lelah yang dipendam, cemas yang menumpuk, dan rasa sendirian yang tak sempat diungkap. Hari demi hari dijalani tanpa jeda—hingga akhirnya emosi tumpah. ‎ ‎Ini bukan soal membena
Nisa || Affiliatepreneurs

Nisa || Affiliatepreneurs

0 suka

Lihat lainnya
Nisa || Affiliatepreneurs
0Mengikuti
1Pengikut
5Suka dan simpan

Nisa || Affiliatepreneurs

annisamellie8

annisamellie8

lynk.id/annisamellie01

Batal

🌿 IRT Cari Tenang, Bukan Sempurna 📚 Upgrade Mindset, Mental & Income