JODOH TITIPAN (1)
"Jika tak keberatan, tolong nikahi istri saya."
EPISODE 1
"Pak Bram, jika saya pergi, saya titip keluarga saya. Jika tak keberatan, nikahilah istri saya ...."
Nikahi? Apa maksudnya? Permintaan yang aneh! Zein pasti meracau!
Bukan soal beda status sosial di antara mereka, tapi Zein pasti tahu bahwa ia pria beristri dan tak sedikitpun berniat untuk poligami?
Ia bahkan tak tahu sama sekali siapa, di mana dan yang mana istri Zein? Bukankah ini benar-benar permintaan tak masuk akal?
Namun, Zein telah mengor bankan nya wa untuknya! Protes hatinya lagi menekan. Permintaan itu seperti amanah atau wasiat yang mengi kat kakinya agar tak pergi bahkan jiwanya agar tak melarikan diri.
Bram mendadak pusing saat di bandara. Terngiang kata-kata Zein saat di ruma h sa kit tadi pagi sebelum ia berangkat.
Sebuah notifikasi pesan masuk pas Bram mengantre untuk boarding. Dibacanya pelan.
"Mas Zein mening gal, Pak, tadi pu kul Sembilan." Dari Yanto, sopirnya.
Berita itu nyaris membuat Bram diam terpekur sepanjang perjalanan di pesawat. Bulu kuduknya mendadak meremang. Zein … Zein mening gal?
Sungguh, ia tak benar-benar bisa konsentrasi apalagi tertidur padahal perjalanan masih lama. Benaknya masih terngiang peristiwa tadi pagi di rum ah sak it sebelum ia take off jam 10 ke Tokyo untuk urusan kantor.
Teringat kata-kata Zein waktu dia menjenguk dan ternyata itu pertemuan terakhir mereka.
Dengan lengan masih diperban atas kejadian kemarin siang ia mengunjungi Zein, petugas sekuriti di kantor.
Zein terkapar di sebuah bangsal rum ah sa kit. Da danya masih diperban dengan selang infus menggantung setelah operasi pengambilan proyektil pel uru. Kata petugas, penda ra hannya begitu banyak. Kondisinya belum stabil.
Rupanya kawanan perampok itu memegang sen jata a pi dan memberondongnya. Bram benar-benar merasa bersalah mening galkannya sendiri saat kejadian. Semua lantaran teriakan Zein yang menyuruh Yanto tancap gas untuk pergi. Ia yang sempat membuka pintu untuk menolong Zein kena sabetan pi sau salah satu perampok.
Perampok itu hendak membuka pintu mobil untuk masuk. Untung Yanto secepat kilat melarikan mobil demi menyelamatkan bosnya itu dan ua ng milyaran di dalamnya.
Da rah di lengan Bram mengalir deras. Yanto melarikan mobil ke ru mah sa kit terdekat untuk minta bantuan polisi sekaligus mengobati lu ka Bram.
Bram merasa bersalah sekaligus berutang nyawa pada Zein. Seandainya Zein tidak menyuruhnya pergi mungkin nasibnya setali tiga ua ng dengannya.
Bagi Bram, Zein tak sekadar an ak buah dan petugas sekuriti di kantor, tapi seperti sahabat. Usia Zein 3 tahun lebih muda darinya. Mereka baru saling kenal sekitar tiga bulan sejak ia dipromosikan.
Zein adalah sosok satpam yang beda dengan lainnya. Saleh, selalu salat tepat waktu di musala dan rajin membaca Quran di setiap kesempatan yang ada. Itu yang ia tahu.
Akhir-akhir ini mereka kerap dekat satu sama lain karena sering bekerja bareng. Zein mengawalnya untuk kondisi-kondisi tertentu. Dalam mobil mereka kerap berbincang terutama soal kehidupan. Luasnya pemahaman agama Zein membuat Bram salut.
Tak banyak orang dengan status sekuriti bisa memberikan nasihat-nasihat agama. Kabarnya, Zein pernah mondok di Jawa Timur dari SMP hingga SMA. Sesuatu yang tak diduganya.
Bram yang tadinya pengg ila kerja seperti tercerahkan sejak berjumpa Zein. Ia seperti disadarkan tentang muara hidup sebenarnya. Apalagi ia akan jadi ayah. Marina, istrinya kini tengah hamil besar. Calon an ak pertama setelah 4 tahun membina rum ah tangga.
Kepala Bram senut-senut kembali seperih tangan kiri yang dibalut perban. Terngiang kembali titipan mendiang Zein untuk menikahi istrinya.
***
Tiga hari kemudian, turun dari pesawat dan keluar bandara Soetta, Bram langsung melihat Yanto dari jauh. Yanto melambaikan tangan. Mereka segera masuk mobil dan keluar. Siang terasa terik.
"Bagaimana kabarnya, Pak?"tanya Yanto.
"Alhamdulillah, baik."
***
JODOH TITIPAN, BY WIKAN RUSDI.
BACA LENGKAP KARYA EKSKLUSIF INI HANYA DI KBM APP














































