Lemon8Komunitas gaya hidup

Send To

Line
Facebook
WhatsApp
Twitter
Salin tautan

Dapatkan pengalaman lebih lengkap di aplikasi

Temukan lebih banyak postingan, hashtag, dan fitur di aplikasi.

Buka Lemon8
Buka Lemon8
Buka Lemon8
Jangan sekarang
Jangan sekarang
Jangan sekarang
  • Kategori
    • Untuk Anda
    • Beauty
    • Skincare
    • Fashion
    • Travel
    • Food
    • Home
  • Versi aplikasi
  • Bantuan
  • Indonesia
    • Indonesia
    • 日本
    • ไทย
    • Việt Nam
    • Malaysia
    • Singapore
    • US
    • Australia
    • Canada
    • New Zealand
    • UK
Situs web resmiKebijakan privasiPersyaratan LayananCookies Policy
Putus, Langsung Sah!
Part 5 “Mas, Aku lupa kerjaan!” “H a h ?” Galen yang masih berdiri di dekat ranjang re fleks menoleh cepat. Dea bangkit terburu-buru. “Aku ada kerjaan yang harus kelar besok pagi! A s t a g h f i r u l l a h!” Dea mondar-mandir, tangannya sibuk meraih tas, hijab, pakaiannya, ponsel
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 4. Putus, Langsung Sah!
“Kamu kerja di mana, Dea?” Belum sempat Dea menjawab pertanyaan Galen, ponsel Dea ber g e tar di atas nakas. Ia menatap layar tanpa menyentuhnya. Nama Hedy berke dip terang di sana, G e taran kembali datang. Kali ini lebih lama. Jari-jarinya ragu, lalu akhirnya menyen tuh layar. “Kenapa g
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 3. Putus, Langsung Sah!
Kelopak bunga berham buran di se prai putih, mawar dan melati tercampur rapi. Lampu k a mar re dup, tirainya setengah tertutup, membiarkan cahaya dari luar k a mar masuk perlahan. Di tengah semua itu, Dea ter i sak. T u buhnya mering kuk, gaun sloyer sudah berganti piya ma sederhana. Air mata
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Putus, Langsung Sah!
Pa carku menyebutku p e lit dan meng a n cam p u tus karena aku menolak melanjutkan s e wa rumah e l i t nya serta memb i a yai kuliah adiknya. Dia tak pernah menyangka, hari itu juga aku men i kah dengan pria lain yang ... Part 2 “Galen!” "Iya, benar! Itu si Galen." "Di si
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 1. Putus, Langsung Sah!
Pa carku menyebutku p e lit dan meng a n cam p u tus karena aku menolak melanjutkan s e wa rumah e l i t nya serta memb i a yai kuliah adiknya. Dia tak pernah menyangka, hari itu juga aku men i kah dengan pria lain yang ... Part 1 “Dea, rumah ini beneran nya man banget, s u m pah.” Dea ya
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 10. Jodoh Titipan Tuhan untuk Paman Preman
“Dinda, pulang yuk,” ajakku. Suara televisi masih menyala di ruang tamu, memantulkan cahaya redup ke wajah Dinda yang kini duduk tenang di sofa. Tadi ia sempat berdiam di kamar, tapi keluar setelah tahu aku masih di sini. “Kok pulang, Paman? Kakek ngajak Dinda nginap malam ini. Gak enak kan,
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 9. Jodoh Titipan Tuhan untuk Paman Preman
'Apa Yesi yang dimaksud itu ibunya Dinda?' Aku menatap jalanan di depan mobil dengan rahang mengeras. 'Tapi nama gadis itu Puteri?' Aku menarik napas dalam. 'Ah, kebetulan saja kayaknya.' Namun d a da ini berdebar tak tenang. “Bang, kenapa diam aja?” tany
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 8. Jodoh Titipan Tuhan untuk Paman Preman
“Dan kalau aku menolak?” “Nama besar keluarga ini dipertaruhkan, Mora. Jangan kau buat Bapak m a lu di depan orang kampung.” Aku tertawa pendek, hambar. “Nama besar? Kita ini keluarga preman, Pak. Apa lagi yang mau dijaga?” Fathir langsung membanting meja. “Jaga bicaramu, Mora! Ba
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 7. Jodoh Pilihan Tuhan untuk Paman Preman
Bukan hanya ibu asuhnya yang te ga membuangnya di stasiun. Orang tua k a n dungnya pun sama. Semua mereka lakukan hanya karena tak ingin aku yang preman ini ... _______ "Dinda, ngapain?" "Wah, a nak stasiun udah gede. A w a s, Oi! Dia lagi g a lak." "Hei, Dinda! Tak p
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 6. Jodoh Pilihan Tuhan untuk Paman Preman
Bukan hanya ibu asuhnya yang te ga membuangnya di stasiun. Orang tua k a n dungnya pun sama. Semua mereka lakukan hanya karena tak ingin aku yang preman ini ... _______ “Happy Birthday, Dinda-ku sayang! W o w, pulang dari pesantren, sudah jadi anak ga dis kau sekarang, Nda,” suaraku p e cah di
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 5. Jodoh Titipan Tuhan untuk Paman Preman
Matahari belum tinggi ketika Baron mengantar bocah itu ke rumahku. Dinda duduk di teras, masih diam seperti semalam. Baju biru lautnya kini lebih ku sam, rambutnya kusut, tapi matanya sudah berhenti menangis. Aku menuang air putih ke gelas, menaruh sepotong roti di piring kecil. “Minum dulu,”
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 4. Jodoh Titipan Tuhan untuk Paman Preman
“Udah, udah, jangan nangis lagi. Ayo ikut Om aja, nanti Om kasih permen,” kata seorang pria paruh baya, membawa kantong plastik berisi roti dan permen. Dinda mundur pelan. “Gak mau Om. Dinda mau tunggu Mama." “Ya, Mama-mu titip sama Om. Katanya kau tunggu di rumah Om dulu,” katanya sambi
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 3. Jodoh Titipan Tuhan untuk Paman Preman
Bukan hanya ibu asuhnya yang te ga membuangnya di stasiun. Orang tua k a n dungnya pun sama. Semua mereka lakukan hanya karena tak ingin aku yang preman ini ... _______ 3. Ditangkap Petugas “Woy, kau! Jangan lari-lari!” Suara itu k e ras, menggema di antara peluit dan roda troli yang lew
Rizi Farah

Rizi Farah

0 suka

Part 2. Jodoh Titipan Tuhan untuk Paman Preman
“Kalau orang baik aja udah susah, berarti dunia ini lagi butuh preman yang punya hati." Kalimat itu meluncur begitu saja malam itu, saat aku melihat bocah kecil yang bahkan belum tahu kalau ibunya telah mening gal di depan matanya sendiri. ______ Part 2 “Bang, a nak itu gak bergerak
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 1. Jodoh Titipan Tuhan untuk Paman Preman
“Kalau orang baik aja udah susah, berarti dunia ini lagi butuh preman yang punya hati." Kalimat itu meluncur begitu saja malam itu, saat aku melihat bocah kecil yang bahkan belum tahu kalau ibunya telah mening gal di depan matanya sendiri. ______ Part 1 “Dinda ikut, Ma! Jangan tingga
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 10. Tiket Mudik Cuma Satu
Fattan terbangun karena sentuhan lembut di bahunya. Suara seseorang memanggilnya dengan nada pelan namun tegas. "Bangun, Fattan. Sahur dulu," suara Muqtaf terdengar dekat. Dengan mata masih setengah terpejam, Fattan mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali sebelum akhirnya melihat s
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 9. Tiket Mudik Cuma Satu
Kupikir aku dapat hadiah tiket pesawat dari orang tuaku. ternyata itu cara halus mereka mengusirku. Dan malam itu, aku disuruh pergi ke tempat yang bahkan tak pernah aku kenal. Dan sebelum pergi, mereka berkata, "kamu bukan a n a k kami!" Part 9 "Waled, boleh saya menginap di m
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 8. Tiket Mudik Cuma Satu
Kupikir aku dapat hadiah tiket pesawat dari orang tuaku. Ternyata itu cara halus mereka mengusirku. Dan malam itu, aku disuruh pergi ke tempat yang bahkan tak pernah aku kenal. Dan sebelum pergi, mereka berkata, "kamu bukan a n a k kami!" 🩵🩵🩵 “Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban.”Ar
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 6. Tiket Mudik Cuma Satu
Kupikir aku dapat hadiah tiket pesawat dari orang tuaku. Ternyata itu cara halus mereka mengusirku. Dan malam itu, aku disuruh pergi ke tempat yang bahkan tak pernah aku kenal. Dan sebelum pergi, mereka berkata, "kamu bukan a n a k kami!" Part 6 Di rumah keluarga Fattan di Jakarta,
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Part 7. Tiket Mudik Cuma Satu
Kupikir aku dapat hadiah tiket pesawat dari orang tuaku. Ternyata itu cara halus mereka mengusirku. Dan malam itu, aku disuruh pergi ke tempat yang bahkan tak pernah aku kenal. Dan sebelum pergi, mereka berkata, "kamu bukan a n a k kami!" Part 7 Fattan berdiri di tepi jalan desa ya
Rizi Farah

Rizi Farah

1 suka

Lihat lainnya
Rizi Farah
2Mengikuti
53Pengikut
46Suka dan simpan

Rizi Farah

kay.arayya

kay.arayya

Batal

Hidup gak akan berakhir selama ada harapan. RIZI F الحياة لا تنتهي إلا بالأمل