LEBARAN DI RUMAH MERTUA (2)
Bab 2
"Ini ambil rendang basimu."
Kulempar rendang itu tepat ke wajahnya
"Heh, anak kurang pendidikan. Pasti orang tua kamu nggak pernah mengajarkan sopan santun ya. Dasar orang kota,"
"Justru ini masih sopan karena kalau tidak sudah kusvmpal mulut anda pakai rendang basi ini,"
"Heh gak usah berlaga ya kamu. Masih mending aku kasih rendang, kalian bisa makan daging daripada engga. Nggak usah sok kaya deh kalian, biasa juga kalian makan rendang basi kok."
"Halah gak usah mikir macam-macam. Terima saja memang kalian kere. Gak usah berlaga jadi orang kaya!"
Aku makin geram. Kukepal telapak tangan.
"Wes Ndok. Gak usah diperpanjang. Ayo pulang,"
"Ton, maafkan adikmu yo nduk. Terimakasih rendangnya tadi."
.
"Bu kenapa kok Ibu bilang terima kasih sama dia padahal sudah jelas dia itu menghina ibu,"
"Itu Bukan menghina Ndok. Karena memang setiap tahun itulah ibu terima. Rendang itu memang basi tapi bisa dicuci lalu dimasak lagi."
"Hah?"
"Iya mbak. Jadi memang biasanya setiap tahun Mbak Tun itu masih rendang ke kami seperti itu. Memang kata orang-orang itu basi Mbak tapi bisa dicuci kembali dengan air hangat lalu kemudian dibumbui. Wih, enak banget loh mbak,"
Aku gelengkan kepala cepat.
"Nur, itu nggak baik untuk kesehatan. Jangankan daging basi yang telah jamuran terus Kalian daur ulang. Daging rendang itupun kalau sudah dihangatkan secara berulang-ulang itu sudah tidak ada nutrisinya. Tidak bakteri baik lagi yang ada justru kolesterol jahat ya kan membahayakan kesehatan,"
"Ya bagi orang-orang kaya itu memang seperti itu Mbak. Makanan yang sudah dihangatkan itu akan menimbulkan penyakit. Apalagi daging rendang sudah basi lalu kemudian kami cuci kembali dan kami masak dengan kami bumbui lagi. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak seperti itu Kamu tidak makan daging. Mbak Nanti kalau sudah lama tinggal di desa Ini Mbak juga akan terbiasa kok,"
"Yo wes, lupakan soal yang itu. Nur, nggak apa-apa hari raya Tahun ini kita nggak usah makan daging kita makan apa adanya saja."
"Ndak usah heran, mbak. Seperti yang aku bilang tadi Mbak nanti juga lama-lama terbiasa kok. Terbiasa menjadi orang yang hidup dalam serba kekurangan, yang bahkan rendang basi pun sanggup kami daur ulang supaya bisa makan daging,"
"Ngerumpi apa ya mereka?"
_
"Ada apa kemarin ribut-ribut?"
"Ouh itu, menantu Lek Darti ribut sama Ton,"
"Loh kenapa. Apa dia gak tau kalau selama ini mertuanya biasa makan daging karena tiap tahun Ton yang ngasih dia daging."
"La iya lagaknya seperti orang kaya. La wong Yo wong kismin. Kok berlaga, malah dengar-dengar dagingnya di lempar ke wajah Ton."
"Loh gak sopan. Memang begitu ya orang kota, kurang didikin!"
"Ya biasalah anak orang kota gak pernah diajarin sopan santun,"
"Stst, itu."
"Mbak ini.."
"Saya Miranda, menantunya Bu Darti yang tadi mereka bicarakan,"
"Eh kami bicara itu sesuai kenyataan kok. Memang mertua kamu bisa makan daging kalau dikasih sama Ton. Kalau gak ya gak makan!"
"Ngasih itu kalau masih bisa dimakan, kalau daging busuk itu ngasih tapi niat mau menghina namanya!"
"Loh apa salahnya, wong masih enak kok!"
"Oh kalau gitu kenapa kemarin mbak minta aja tu daging. Kenapa harus dikasih mertua saya!"
"Heh sory ya, aku bisa beli daging beda sama mertua kamu. Beli telur saja cuma seperempat!"
"Ini Bu RT dagingnya."
"Bang bawa daging lagi gak?"
"Daging, daging apa Mbak?"
"Daging sapi, daging ayam. Pokoknya semua yang Abang bawa."
Tukang sayur itu tersenyum.
"Heleh lagak beli daging, nanti ujung-ujungnya juga ngebon."
Eh dasar orang kampung, tau harga bajuku nanti pingsan.
"Gimana Bang. Ada berapa kilo?"
"Seriua mbak mau beli. Aku gak mau loh kalau hutang, mbak."
Kambing emang ni orang. Ku ambil dompet lalu kutunjukkan isi dompetku.
"Ini cukup kan untuk membeli isi gerobak kamu!"
Hah?
Tukang sayur melongo dengan mata membulat begitu juga dengan yang lainnya.
Rasain! Mati kutu kan. Ini belum seberapa, aku tunjukkan identitas asliku. Pingsan kalian semua!
Baca selengkapnya di kbm
Judul Lebaran di Rumah Mertua
Penulis AuthorPena
































































