TALAK SAAT LAHIRAN (3)
Part 3
“Kamu sembunyikan anakku di mana, Jenar?!”
Mas Pandu berdiri di ambang pintu, matanya menyala seperti hendak membakar dunia. Tangannya menunjuk lurus ke arahku.
Bu Harti menyerobot masuk dengan raut muka sama marahnya. “Jawab, Jenar! Kenapa gak ada di ruangan bayi?! Kamu udah sembunyikan cucuku di mana?!”
Aku tersenyum kecut dalam keadaanku yang belum sepenuhnya pulih. Mataku menatap wajah Mas Pandu dulu. “Anakmu?” Lalu ke wajah Bu Harti. “Cucumu?”
Aku kemudian tertawa hambar. “Dia bukan siapa-siapa kalian. Kalian bahkan gak pernah peduli padanya, kan? Bahkan waktu dokter sudah menyarankan tindak operasi Caesar, kalian rela dia kesakitan di dalam perutku demi menghemat biaya. Kalian terlalu pelit!”
“Pelit kamu bilang?!” bentak Mas Pandu, wajahnya merah. “Aku udah bilang kita ini lagi gak punya uang. Biaya Caesar itu mahal, Jenar?!”
“Sing eling, Jenar!” sahut Bu Harti, suaranya sengit. “Jadi istri itu harus prihatin sama keuangan suami. Jangan gampang minta-minta! Kamu pikir cari uang itu gampang?!”
Aku tertawa getir.
“Ibu lagi ngomongin diri Ibu sendiri, ya? Bukannya Ibu yang gampang minta uang ke Mas Pandu? Bahkan, uang yang Mas Pandu kasih ke Ibu lebih banyak daripada yang Mas Pandu kasih ke aku. Aku yang ngurus semua keperluan rumah. Tapi Ibu? Sibuk shopping untuk memenuhi gaya hedon Ibu sendiri, kan?”
“Cukup, Jenar! Dasar istri durhaka! Berani-beraninya kamu mengatai Ibuku!” bentak Mas Pandu sambil melangkah cepat ke arahku, tangan kanannya terangkat tinggi siap menamparku.
Dia pikir aku akan diam saja menunggu pipiku ternodai dengan tangan kotornya? Tidak akan.
Aku langsung menahan tangannya di udara. Meski masih lemah, aku kerahkan semua sisa tenaga untuk mencengkeram pergelangan tangannya.
“Kenapa, Mas? Mau mukul aku?" Aku menatap matanya sinis. “Kamu selalu membela Ibu dan gak pernah sekalipun membela aku. Padahal jelas-jelas Ibu yang salah!"
Mas Pandu terdiam. Dia terlihat tergugu dengan keberanianku. Lalu ia berdehem dan menghempaskan tanganku. Suaranya bergetar saat berkata, “Dia itu ibuku, Jenar. Dia itu surgaku.”
Aku mengangguk pelan karena memang Bu Harti adalah ibunya. “Lalu bagaimana dengan wanita selingkuhanmu itu, Mas? Namanya Rita, kan? Bukankah tiap bulan kamu nafkahi dia juga? Nafkah lahir... maupun batin?” Aku menekankan kalimat terakhirku.
Mas Pandu menegang. “Ja... jadi kamu...”
“Ya, aku udah tahu," sahutku cepat. "Aku tahu semua, Mas. Tentang Rita, tentang kalian diam-diam ke Bandung waktu aku bilang mau kontrol kehamilan. Tentang uang yang kamu transfer tengah malam. Aku tahu semuanya, Mas.”
“JENAR!” bentak Bu Harti, wajahnya memerah karena malu dan takut.
Aku menoleh cepat padanya. “Apa, Bu? Ibu juga tahu tentang semua ini, kan? Ibu macam apa yang menutupi perselingkuhan anaknya sendiri, Bu?!”
Bu Harti terdiam. Bibirnya mengatup rapat. Sorot matanya kosong. Tidak menyangkal, tidak juga membela.
Aku menuding mereka bergantian. “Kalian berdua bukan manusia. Kalian itu sampah. Sampah yang lebih kotor dari sampah sebenarnya!”
Sejurus kemudian...
Tok tok tok.
Pintu bilik diketuk pelan.
Seorang pria muncul. Posturnya tegap, wajahnya bersih, senyumannya menenangkan. Ia mengenakan setelan semi-formal yang rapi.
“Dokter mengizinkan kamu pulang lebih cepat. Tapi dengan catatan, kamu harus rajin minum obat pemulihan dan banyak istirahat.”
Aku mengangguk sopan.
Mas Pandu langsung mendelik. Matanya menatap pria itu seperti ingin menelanjangi isi kepalanya. Wajahnya merah. Tangannya mengepal kuat.
“DIA SIAPA, JENAR?! APA DIA SELINGKUHAN KAMU?!”
Bu Harti juga terlihat gelisah, ikut menatap pria itu dengan pandangan menuduh.
Apa yang aku lakukan? Aku hanya menatap mereka berdua. Lalu tersenyum. Senyum yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Aku akan memperlihatkan siapa aku sebenarnya. Dan aku bersumpah akan membalas semua perlakuan buruk mereka yang sudah membodohiku selama ini!
Baca part selanjutnya di aplikasi KBM App ya...
Judul : TALAK SAAT LAHIRAN
Penulis : Dewi Diyu




































