SETELAH KITA JADI MANTAN 2
Setelah Kita Jadi Mantan #2
Zayden memapah Amara masuk ke dalam rumah dengan sikap protektif yang luar biasa. Sorot matanya memancarkan kecemasan yang begitu nyata, sesuatu yang tak pernah ia berikan pada wanita yang berstatus istrinya.
Di sudut ruangan, Elena hanya terpaku. Bibirnya kelu, tak mampu meneriakkan ribuan kalimat yang sudah tersusun rapi di hatinya. Ia memilih bungkam, mencoba menyelamatkan sisa ha-rga dirinya agar tidak terlihat menyedihkan hanya karena terbakar cemburu. Meski statusnya adalah istri sah, Elena sadar sepenuhnya bahwa kunci hati suaminya masih digenggam erat oleh wanita yang baru saja melangkah masuk itu.
“Tunggu di sini, aku ambilkan air untukmu,” ucap Zayden lembut sebelum beranjak ke dapur.
Elena bermaksud menghindari konfrontasi dan berjalan melewati Amara begitu saja. Namun, sebuah suara menghentikannya.
“Tunggu!” Amara menatap Elena dengan binar kemenangan. “Halo, Adik. Apa kabar? Bagaimana rasanya dua tahun menjadi istri 'pengganti'?”
Amara mendekat, lalu berbisik tepat di telinga Elena dengan nada mengejek. “Biar kutebak, Zayden tidak pernah menganggapmu ada, 'kan? Buktinya, semalam dia lebih memilih menghabiskan waktu bersamaku daripada pulang menemuimu.”
Elena mengepalkan tangannya, mencoba menahan emo-si yang mulai mendidih.
“Kau sama saja seperti ibumu... sama-sama tidak tahu diri dan tidak punya har-ga diri,” lanjut Amara dengan senyum sinis.
“Cukup!” bentak Elena. Dadanya naik turun menahan ama-rah karena Amara berani menghi-na mendiang ibunya.
“Ada apa ini?” Suara berat Zayden menginterupsi. Ia muncul dari dapur dengan segelas air di tangan dan langsung mempercepat langkahnya.
“Akh!” Amara tiba-tiba menjerit. Tubuhnya merosot dan jatuh ke lantai dengan dramatis.
Zayden yang melihat hal itu seketika dikuasai amarah. Tanpa bertanya, ia mendorong Elena dengan ka-sar. “Apa yang kamu lakukan?!”
Bruk!
Tubuh Elena terhempas hingga pinggangnya menghantam sudut meja sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Rasa sakit yang ta-jam langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Elena meringis, menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kenapa... kenapa kamu seka-sar ini padaku?”
“Masih bertanya kenapa? Kamu yang sudah berbuat ka-sar pada Amara! Elena, jangan uji kesabaranku. Jika kau mar-ah, lampiaskan saja padaku, jangan pada dia!” sentak Zayden.
“Tapi aku tidak melakukan apa-apa! Dia sendiri yang—”
“Zay, sudah... jangan mara-hi Elena. Aku yakin dia tidak sengaja,” potong Amara sambil memeluk lengan Zayden, memberikan tatapan si-nis yang tersembunyi dari pandangan pria itu.
“Amara, dia sudah keterlaluan! Dia harus tahu, jika bukan karena pen gor ba nanmu tiga tahun lalu, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini!”
Elena tertegun. “Tiga tahun lalu?”
“Ya! Tiga tahun lalu aku—” Kalimat Zayden terputus saat Amara tiba-tiba terkulai lemas tak sadarkan diri. Kepanikan langsung melanda Zayden. Ia segera menggendong Amara untuk kembali ke rumah sakit.
Sebelum pergi, Zayden menoleh dengan tatapan yang membekukan hati Elena. “Jika terjadi sesuatu pada Amara, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
Elena hanya bisa menatap punggung Zayden yang menjauh dengan rasa perih yang luar biasa—baik di hati maupun di perutnya. “Zay... anak kita...” lirihnya pelan. Dunianya perlahan berputar, rasa sakit di perutnya kian tak tertahankan, hingga akhirnya pandangan Elena menggelap sepenuhnya.
♡♡♡
Baca lanjutan cerita ini eksklusif hanya di K B M
Judul: Setelah Kita Jadi Mantan
Penulis: Eka Akhfa



































