SETELAH JADI MANTAN 2
2
“Apa kamu belum puas sudah membuat hidupku hancur? Mempermalukanku dan menghancurkan daganganku?”
“Aku ingin melihat an ak kecil itu! Kenapa wajahnya begitu mirip denganku?” tanyaku melangkah maju. “Saat kamu pergi ... kamu dalam keadaan ha mil besar.”
Tanpa diduga, Husna mendorong tubvhku kasar. Aku kehilangan pijakan, langsung terhuyung. Tanganku tak sempat menahan, hingga aku langsung tersungkur di atas aspal.
“Bukan aku yang pergi. Tapi, kamu yang mengusirku!” ucap Husna seolah tak peduli melihatku tersungkur di atas aspal.
“Azzam, cepat pulang dan diam di rumah sama Mbak Azwa!” Husna memberi perintah pada an ak kecil tersebut.
Tiba-tiba tubvhku membatu. Napasku tertahan. Rasa perih seketika menyerang hati.
“Azwa!”
Bibirku tanpa sadar mengucapkan nama tersebut. Sebuah nama yang hampir luput dari ingatanku. Husna berbalik setelah memastikan an ak kecil tersebut menjauh.
“Hu—husna, Azwa ... aku ingin melihatnya,”
Senyum tipis penuh ejekan terukir di wajah Husna. “Sepertinya kamu baru sadar, tujuh tahun lalu punya an ak perempuan bernama Azwa,” sindirnya.
Ucapan Husna bagaikan palu godam yang menghan tam kepala. Isi pikiranku melayang tak tentu arah. Bertahun-tahun aku hidup dengan perasaan sa kit ha ti dan kecewa, hingga lupa dengan seseorang yang paling penting dalam hidupku.
Duniaku terasa berputar cepat, hingga aku hampir kehilangan keseimbangan. Tanganku mencoba menjangkau apapun untuk berpegangan. Sayangnya, hanya udara kosong. Tubvhku limbung dan jatuh tanpa sadar.
“Husna, tolong pertemukan aku dengan Azwa! Aku mohon!” pintaku penuh harap. “Azwa pasti sudah besar dan cantik sepertimu. Benarkan?”
“Aku ingin minta maaf padanya,” sambungku memohon.
Husna tersenyum miring. “Nggak perlu! Azwa sudah bahagia tanpa kamu, Mas,” katanya menggereget.
“Apa maksudmu, Husna? Kamu mau menghalangiku bertemu dengan Azwa? Aku ayahnya, Husna!” Aku memekik keras, hampir kehilangan kontrol.
“Azwa sudah nggak punya ayah!” balas Husna dengan nada rendah, tapi terdengar tajam. “Ayahnya sudah mening gal tujuh tahun lalu!”
Napasku tertahan. Pandanganku kabur oleh air mata. Husna mendekat dengan sorot mata penuh keben cian.
“Hidupku sudah damai dan bahagia,” katanya parau dan tatapannya seperti dipenuhi rasa pilu. “Kenapa kamu muncul lagi di hadapanku, Mas?”
Tanpa izin aku langsung meraih tangannya. Rasa takut dan kecewa pada diri sendiri, terlalu menguasai diri. “Kamu nggak punya hak menghalangiku bertemu dengan Azwa, Husna!” sentakku.
Tujuh tahun aku hidup dalam amarah. Selama itu pula, aku merasa dikhianati dan harga diriku diinjak-injak. Dulu, aku memilih percaya pada gosip, pada prasangka, dan bisikan orang-orang yang mengatakan Husna berkhianat.
Aku menutup telinga dari penjelasannya. Menutup hati dari tangisnya. Tanpa sadar, aku menutup mata terhadap an akku sendiri.
“Kamu boleh marah padaku. Kamu boleh , membenciku, tapi jangan ambil hakku sebagai ayah!”
“Hak?” ulangnya lirih, lalu mendekat satu langkah. “Hak itu sudah kamu buang tujuh tahun lalu. Bukan aku yang mengambil hakmu sebagai seorang ayah. Tapi, kamu yang membuangnya sendiri.”
***
Judul. Setelah Jadi Mantan
Penulis. Disi Halimah
KBMapp






























