Antrian BBM sulit, Warga Libureng diduga boyong 16 KL Solar subsidi ke Morowali dan tak te
Bone-LinusTerkini, Sesaknya antrian pengambilan BBM di hampir semua SPBU di Bone menjadi pemandangan sehari hari, bahkan tak jarang terjadi keributan di antara para pengantri.
Namun disisi lain tim media ini mendapatkan informasi jika di Desa Wanua Waru kecamatan libureng, terjadi bongkar muat solar subsidi yang kemudian di boyong ke perusahaan yang ada di daerah Morowali.
Seorang sumber terpercaya sebut saja "R" mengatakan jika aktifitas tersebut dilakukan oleh seorang warga desa Wanua Waru berinisial H.HM yang biasanya mendistribusikan solar subsidi ke daerah Morowali, pendistribusian ini biasanya dilakukan 3 hingga 4 kali dalam sebulan.
Solar yang di distribusikan itu diduga dilangsir dari SPBU labombo Desa Wanua Waru kecamatan Libureng kabupaten Bone.
"Pak aji itu ( HHM ) biasanya mengantar 3 atau 4 kali dalam sebulan, kalau mobil tangkinya biasa di sembunyikan di rumah sopirnya" kata R pada Jumat 14 Agustus 2026
Dalam melakukan aksinya HHM diduga menggunakan tangki berkapasitas 16 kilo liter dengan brending PT LINTAS BUMI PERSADA.
Aksi tersebut diduga telah dilakukan oleh H.HM cukup lama, dan selama melakukan aksinya belum pernah ditindaki oleh pihak yang berwajib.
Hal tersebut kemudian menyisakan tanda tanya, siapakah H.HM, dan apakah ada orang besar yang membackUp aktifitasnya hingga membuat Aparat penegak hukum seolah tutup mata.
... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi saya selama tinggal di Sulawesi menunjukkan bahwa antrian BBM memang kerap menjadi masalah serius, apalagi saat terjadi kelangkaan subsidi. Namun, informasi terkait pengalihan solar subsidi oleh oknum tertentu di Desa Wanua Waru membuka mata banyak pihak akan adanya praktik ilegal yang sering luput dari pengawasan. Dalam pengalaman saya, tangki besar dengan kapasitas sekitar 16 kilo liter memang sangat efektif untuk mengangkut solar dalam jumlah banyak sekaligus, sehingga jika disalahgunakan bisa berdampak besar pada pasokan dan distribusi BBM resmi.
Pengamatan saya juga mengingatkan pentingnya peran aparat dan lembaga pengawas seperti BPH Migas dan kepolisian dalam mengawasi pergerakan distribusi BBM subsidi. Yang menjadi perhatian adalah, mengapa kegiatan yang jelas melanggar aturan ini berlangsung cukup lama tanpa adanya tindakan tegas? Hal ini membuat warga yang legítim antri untuk membeli solar subsidi menjadi dirugikan dan bingung, sementara solar malah dialirkan ke luar daerah oleh oknum tertentu.
Selain itu, branding tangki dengan nama perusahaan seperti PT Lintas Bumi Persada menunjukkan bahwa modus operandi pengangkutan solar subsidi ini terorganisir dan menggunakan kedok bisnis resmi. Dari pengalaman saya berinteraksi dengan warga dan petugas SPBU, modus seperti ini bisa jadi diperkuat oleh jaringan yang memiliki pengaruh besar.
Sebagai warga biasa, penting untuk meningkatkan kesadaran dan melaporkan dugaan pelanggaran ke pihak berwajib. Juga diharapkan penegak hukum melakukan penyelidikan yang transparan dan profesional agar tidak muncul asumsi bahwa ada yang menutup mata. Dengan begitu, distribusi BBM subsidi bisa benar-benar tepat sasaran dan warga yang membutuhkan tidak dirugikan oleh praktik ilegal yang merugikan negara dan masyarakat luas.
Akhir kata, permasalahan antrian BBM dan pengalihan solar subsidi secara tidak sah harus menjadi perhatian serius agar kondisi BBM di wilayah Bone dan sekitarnya menjadi kondusif kembali. Warga pun bisa mendapatkan BBM subsidi dengan adil dan merata sesuai ketentuan pemerintah.