Bermula dari kata segalanya menjelma. Kata kata bukanlah hanya letupan angin semata, kosong dan tanpa makna. Ia memiliki suatu kekuatan dan isi didalamnya. Kata kata leluhur memiliki kekuatan makna didalamnya, lantaran para leluhur atau orangtua kita berbicara berdasarkan pengalaman yang dimilikinya (peristiwa sosial, ekonomi, politik, hukum dan seterusnya). Sehingga lumrah jika perkataan para leluhur itu dianggap keramat dan sakral. Ia memiliki dimensi kedalam, dan sekaligus menyembul keluar. Exampleir : Dimana bumi dipijak, hendaknya langit itu pun dijunjung, lebih baik mati berputih tulang daripada hidup bercermin bangkai, dan seterusnya.
Hidup rukun, bergotong royong, dan saling menolong adalah suatu pesan para orangtua kita yang berusaha diangkat dalam tema besar hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pesan simbolik itu, memiliki nilai atau arti hidup yang sesungguhnya dalam kehidupan kita bangsa Indonesia. Dan sudah seyogyanya, kita berusaha untuk kembali menghidupkan pesan pesan simbolik tersebut. Apalagi Indonesia yang kini telah, sedang dan akan terus mengarah pada kehidupan individualistis, pragmatis dan transaksional.
... Baca selengkapnyaDalam kehidupan sehari-hari, saya semakin menyadari betapa pentingnya nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur kita, terutama pesan tentang hidup rukun dan bergotong royong. Ketika saya menjalani aktivitas rutin, seringkali kebahagiaan kecil hadir dari hal-hal sederhana seperti berbagi makanan atau saling membantu tetangga. Contohnya, semangkuk bubur yang tidak hanya menjadi santapan, tetapi juga simbol kasih sayang dan perhatian.
Nilai gotong royong yang diajarkan oleh para orangtua dan leluhur tak lekang oleh waktu. Saya mengalami sendiri bagaimana semangat saling tolong menolong ini bisa menjaga keharmonisan lingkungan sekitar. Di tengah perubahan sosial yang semakin individualistis, saya percaya dengan menghidupkan kembali pesan-pesan leluhur, kita dapat mempererat kebersamaan dan menjaga persatuan bangsa.
Kata-kata keramat seperti "Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" bukan sekadar ungkapan, tapi pedoman hidup yang mengandung kebijaksanaan. Dengan memahami dan menerapkan nilai tersebut, kita dapat menghormati budaya serta tradisi yang membentuk identitas bangsa Indonesia.
Saya juga menyadari pentingnya peran kata-kata dalam membangun karakter, dari pengalaman pribadi dan lingkungan sekitar. Kata-kata tidak hanya akan hilang begitu saja, melainkan membawa implikasi yang mendalam jika kita menggali maknanya dengan baik. Itulah alasan mengapa pesan leluhur harus terus diwariskan dan diaplikasikan dalam kehidupan modern ini, agar setiap individu dapat hidup berdampingan dengan damai dan saling menghargai.
Melalui pengalaman pribadi, saya mengajak pembaca untuk tidak hanya mengenang pesan leluhur sebagai sejarah, tapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber kebahagiaan sejati dan kekuatan moral, khususnya dalam menghadapi tantangan zaman yang penuh dinamika.