Chapter 1
"Akhirnya, Sang Tuan Putri ingat jalan pulang," sindir Widya dingin.
Saat pintu terbuka, bukan sambutan hangat yang dia terima. Ibunya, Widya, berdiri di samping ranjang dengan wajah kaku. Tatapannya jatuh pada pakaian kerja Kiran yang tampak kusut, dan itu adalah satu-satunya pakaian yang dia bawa karena terburu-buru mengejar penerbangan paling awal.
Kiran tak menjawab. Matanya tertuju pada sosok pria tua yang terbaring lemah di ranjang.
Ayahnya.
Pria yang dulu begitu gagah, kini tampak ringkih dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.
"Ayah ...." bisik Kiran, suaranya bergetar.
"Jangan hanya memanggil," potong Widya, langkahnya mendekat tatapannya mengintimidasi. "Ayahmu butuh operasi bypass jantung. Biayanya dua ratus juta. Dan rumah sakit tidak akan melakukan tindakan sebelum kita membayar deposit tujuh puluh persen."
Kiran tertegun. "Dua ratus juta? Tapi, Bu ... setiap bulan aku selalu mengirim—"
"Uang itu habis untuk biaya perawatan rutinnya selama ini, Kiran! Kamu pikir obat jantung itu murah?" Widya membuang muka, suaranya sedikit merendah namun penuh penekanan. “Kalau saja kami tidak menguliahkan dan menghidupimu, keluarga kita tidak akan jatuh miskin seperti ini. Kamu berutang nyawa pada ayahmu."
Ibunya melipat kedua tangan di depan dada lalu kembali berucap kasar, seolah tidak pernah puas untuk menyalahkannya. “Ayahmu selalu mengusahakan apa pun untukmu, jadi sudah sepatutnya kalau sekarang kamu juga mengusahakan kebutuhannya.”
Kiran menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah yang selama ini dia tekan, mendadak meledak lagi. Dia mendekat ke ranjang, menyentuh tangan ayahnya yang terasa kasar dan dingin.
"Aku akan cari uangnya, Bu," ucap Kiran pelan namun tegas.
“Itu memang kewajibanmu! Jika terjadi sesuatu pada ayahmu, itu tanggung jawabmu. Ingat itu!” desis Widya. "Aku tidak mau tahu uang itu harus ada. Atau kamu akan menyesal seumur hidup." Setelahnya, Widya meninggalkan Kiran dan ayahnya begitu saja.
Kiran menatap ayahnya yang tertidur. “Yah.” Suaranya lirih dan berat memanggil nama pria yang bertahun-tahun ini memberikan peran ‘ayah’ dalam hidupnya.
“Aku pasti akan mengusahakan kesembuhan Ayah, hm ….” Suaranya semakin berat kala matanya berkaca-kaca. “Setelah sembuh, aku akan mengajak Ayah jalan-jalan, ke tempat yang selalu Ayah inginkan, oke. Jadi, bertahan, ya.” Kemudian setelah memandangi ayahnya untuk beberapa saat, Kiran menjauh dari ranjang ayahnya.
Dengan bahu merosot, dia keluar dari ruangan itu. Kiran duduk di kursi tunggu koridor yang dingin, lalu merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menghubungi satu-satunya sahabat yang masih dia miliki di kota ini.
"Sab, aku butuh bantuanmu."
Di ujung telepon, Sabrina terdengar terkejut sekaligus cemas. “Ada apa? Kamu di mana?”
Setelahnya Kiran menjelaskan keberadaan dan situasinya saat ini pada Sabrina. Hanya Sabrina yang bisa memahami dan membantunya.
Dari ujung sana, Sabrina mendesah pelan, “Setelah enam tahun, akhirnya kamu memutuskan kembali dan tinggal lagi, Kiran.”
“Aku terpaksa.”
“Sebenarnya aku bisa membantu tapi … aku tidak yakin.”
Tubuh Kiran langsung menegak. Antusias mendengar ucapan Sabrina meskipun merasa bingung mengapa sahabatnya itu tidak yakin dengan bantuan yang akan dia berikan.
“Kenapa? Kamu bisa membantuku?”
“Sebenarnya di kantorku yang sekarang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tapi, aku benar-benar tidak yakin kamu akan melamar ke sana.”
Kening Kiran berkerut. “Kamu pindah tempat kerja? Di mana? Dan … tapi … kenapa kamu tidak yakin? Dengar, Sab, untuk saat ini di mana pun itu aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Ayah.”
“Di RDJ, Kiran. Kamu tahu ‘kan perusahaan siapa itu?”
Mendengar nama perusahaan itu, tubuh Kiran langsung menegang.
Sabrina melanjutkan ucapannya, seolah sudah menduga reaksi Kiran. “Tapi, hanya perusahaan ini yang bisa memberikanmu gaji besar. Yang aku tahu gaji cleaning service saja sangat besar.”
Kiran menatap pintu kamar rawat ayahnya, sambil masih mendengar Sabrina berbicara, “Jika kamu yakin, datang besok untuk wawancara.”
Kepala Kiran bersandar di dinding koridor dengan mata terpejam setelah menutup panggilannya dengan Sabrina.
RDJ.
Haruskah dia ke sana?
Judul: Dimanja Mantan Posesif
Author: Aililea (din din)
Platform: Goodnovel
https://m.goodnovel.com/down/GNSM00650/31001277547
Menghadapi situasi sulit seperti yang dialami Kiran, saya pernah merasakan bagaimana beban tanggung jawab keluarga bisa sangat berat terutama saat kesehatan orang tua menjadi taruhannya. Biaya operasi bypass jantung yang mencapai ratusan juta rupiah benar-benar memberatkan, apalagi jika kondisi keuangan keluarga tidak stabil. Dalam pengalaman saya, keterbukaan dan dukungan dari sahabat sangat membantu untuk menemukan solusi, sama seperti Kiran yang mengandalkan Sabrina untuk mencari kesempatan pekerjaan. Peran sahabat yang memahami situasi kita sangat vital agar kita tetap semangat dan punya peluang untuk bangkit. Menanggapi tawaran kerja di perusahaan seperti RDJ yang menawarkan gaji besar tentu menjadi peluang yang layak dipertimbangkan, meskipun bisa jadi ada kekhawatiran tersendiri karena reputasi atau tekanan di sana. Namun, dalam keadaan genting, kadang pilihan harus diambil dengan berani agar bisa memenuhi kebutuhan mendesak, seperti biaya pengobatan orang tua. Kisah ini mengingatkan saya bahwa terkadang kita harus keluar dari zona nyaman dan menjalin kembali komunikasi dengan keluarga dan sahabat untuk mendapat dukungan terbaik. Momen berat seperti harus membayar deposit besar di rumah sakit bisa membuat kita merasa sendirian, namun kenyataannya selalu ada jalan dan bantuan bila kita mau berusaha dan percaya. Selain itu, penting juga bagi keluarga untuk saling memahami dan membuka jalan dialog yang membangun, sehingga tidak menambah beban secara emosional, seperti Kiran yang merasa ditekan oleh ibunya. Perjuangan Kiran ini memberikan gambaran nyata tentang kehidupan yang penuh konflik emosional dan finansial, namun di balik itu juga ada harapan dan nilai kebersamaan yang kuat.
