Baiklah kita review drama the Manipulated Episode 3-4.
Jujur saja, episode 1-2 juga udah bikin kita mikir keras dan stress. Bagaimana tidak? seorang pemuda yang begitu sibuk dengan kerjaannya, tiba-tiba di jebak kasus kriminal dan berakhir di penjara.
Kemudian didalam penjara itu, dia mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari narapidana lainnya. Ditinggalkan oleh kekasihnya dan mendapat kabar bahwa adiknya meninggal.
Begitu putus asanya dia sampai berusaha untuk bunuh diri berkali-kali. Kemudian, ketika dia mendapatkan energi untuk bangkit dan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, dia merencanakan untuk kabur dari penjara. Seluruhnya dia persiapkan dengan baik. Mulai dari fisik hingga strategi.
Namun, di hari-H dia berencana untuk kabur, ada pemeriksaan kesehatan dan suntik vaksin. Sayangnya, dia sudah menjadi target untuk diracun. Racun itu akan menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu 30 menit, sesuai dengan waktu yang dia butuhkan untuk kabur.
Alhasil, ketika dia sudah berhasil kabur, dia pingsan di depan pintu utama dan tertangkap kembali.
... Baca selengkapnyaWaktu nonton The Manipulated episode 3–4, aku makin kerasa kalau drama ini bukan sekadar tentang orang tak bersalah yang dijebak. Di dua episode ini, vibe-nya berasa kayak kisah “pahlawan pingsan dan putri pembunuh” versi modern: tokoh utama yang kelihatan powerless, dikelilingi orang-orang misterius yang kita nggak tahu siapa sebenarnya kawan dan siapa lawan.
Figur “pahlawan” di sini jelas si pemuda yang difitnah itu. Dia bukan pahlawan ideal yang selalu kuat, tapi lebih ke tipe yang berkali-kali jatuh dan tetap berusaha bangkit. Adegan dia berlatih fisik, merencanakan strategi kabur, sampai nekat melawan sistem penjara yang nggak manusiawi, bikin aku mikir: di dunia nyata, kadang orang baik memang kelihatan kalah dan “pingsan” dulu sebelum bisa berdiri lagi.
Nah, bagian yang menarik buatku adalah sosok-sosok di sekelilingnya yang terasa kayak “putri pembunuh” versi The Manipulated. Bukan harus literally putri kerajaan, tapi perempuan dengan wajah polos atau penampilan nggak mengancam, tapi diduga terlibat dalam permainan yang menjebak si tokoh utama. Drama ini pinter banget mainin kesan pertama: karakter yang kita kira lemah atau korban, ternyata bisa saja yang memegang pisau di belakang layar.
Dari poster dan still cut yang beredar, termasuk yang kelihatan kayak pria berjaket putih bernoda hitam memegang pagar kuning dengan sosok bertopeng hitam di belakangnya, nuansanya benar-benar tegang. Kontras jaket putih yang kotor dan turtleneck hitam itu seolah nunjukin kalau nggak ada lagi batas jelas antara baik dan jahat. Apalagi dengan kehadiran karakter bertopeng, kita jadi makin curiga: siapa dalang sebenarnya? Apakah ada “putri pembunuh” yang sengaja tampil tak berbahaya supaya tidak dicurigai?
Secara personal, aku suka gimana drama ini pelan-pelan ngebuka masa lalu dan motivasi tiap karakter. Di episode 3–4, kita mulai dikasih hint kalau kasus kriminal yang menjerat si tokoh utama bukan kejadian dadakan. Ada pihak yang sudah lama mengincar dia, dan kemungkinan besar melibatkan orang dekat. Ini bikin teori penonton liar banget: apakah ada figur perempuan yang pura-pura menyelamatkan, padahal justru bagian dari skema besar?
Kalau kamu suka cerita yang tokoh prianya berkali-kali “jatuh” (baik secara fisik maupun mental), sementara ada sosok perempuan yang kelihatan rapuh tapi menyimpan rahasia kelam, The Manipulated ini lumayan memenuhi rasa penasaran soal tema pahlawan pingsan dan putri pembunuh. Buatku, justru saat sang pahlawan ada di titik terendah dan nggak berdaya, di situlah karakter aslinya dan niat tersembunyi orang-orang di sekitarnya paling kelihatan.
Jadi kalau kamu lagi cari K-drama ongoing dengan nuansa thriller psikologis, intrik penjara, dan hubungan antar karakter yang kompleks, episode 3–4 The Manipulated ini bisa banget kamu masukin ke watchlist. Jangan lupa siapin mental, karena tiap kali kamu pikir udah paham siapa korban dan siapa pelaku, drama ini suka banget ngejatuhin teori kamu dalam satu adegan saja.