dampak tatanan dunia baru bagi Indonesia
Indonesia adalah negara kaya yang sumber dayanya dikuasai barat sampai dijadikan negara pengemis.
Kalau kita cakap tentang dampak globalisasi terhadap ketahanan nasional Indonesia, sebenarnya tak boleh hanya tengok dari satu sisi saja. Dalam film dan tulisan pasal "New World Order" atau tatanan dunia baru, Indonesia selalu digambarkan sebagai negara kaya sumber daya tapi akhirnya jadi "negara pengemis". Dari pengalaman aku baca dan tengok dokumentari macam "The New Rulers of The World", memang terasa bagaimana globalisasi boleh mengganggu ketahanan politik, ekonomi, dan budaya kita. Dari sisi politik, globalisasi buat keputusan dalam negeri jadi sangat dipengaruhi kepentingan luar. Contohnya, ketika IMF dan World Bank masuk dengan pelbagai syarat pinjaman. Nampak macam bantuan, tapi sebenarnya mereka mendikte kebijakan: dari privatisasi BUMN, pembukaan pasar untuk korporasi asing, sampai pengurangan subsidi untuk rakyat. Bila negara terlalu bergantung pada lembaga keuangan global, kedaulatan politik perlahan-lahan terhakis. Pemimpin kita terpaksa ikut "aturan main" tatanan dunia baru demi mendapatkan dana dan sokongan internasional. Di sisi ekonomi, inilah bahagian yang paling jelas. Indonesia punya gunung dan emas, minyak bumi, kayu, dan macam-macam sumber alam lain. Tapi di era globalisasi, yang menikmati keuntungan besar seringkali korporasi multinasional. Perjanjian investasi, kontrak pertambangan, dan projek infrastruktur kadang lebih berpihak pada investor global berbanding rakyat. Akhirnya, ekonomi kelihatan tumbuh di atas kertas, tapi ketahanan ekonomi rapuh: hutang menumpuk, defisit meningkat, dan krisis macam tahun 1998 mudah berlaku. Di sinilah muncul rasa bahawa kita hanya jadi "murid teladan" versi Bank Dunia, tapi ekonomi boleh runtuh bila sistem global goyah. Dari sisi budaya, dampak globalisasi juga tak boleh dipandang remeh. Masuknya budaya Barat melalui media, hiburan, dan gaya hidup perlahan-lahan menggantikan nilai lokal. Konsumerisme, individualisme, dan cara berfikir materialistik menjadi sesuatu yang dianggap normal. Ketahanan budaya goyah bila generasi muda lebih bangga dengan identiti global berbanding identiti kebangsaan. Bahasa asing lebih diutamakan, produk luar lebih diagungkan, dan tradisi sendiri dianggap ketinggalan zaman. Namun, globalisasi tak semuanya negatif. Ada juga peluang: akses teknologi, peluang belajar ke luar negara, perdagangan yang lebih luas, dan jaringan kerjasama internasional. Soalnya, sejauh mana Indonesia boleh menggunakan peluang ini tanpa mengorbankan ketahanan nasionalnya? Menurut aku, kuncinya ada pada kesedaran dan kebijakan: kita perlu sedar tentang adanya neokolonialisme ekonomi dan budaya, tetapi pada masa yang sama memperkuat institusi dalam negeri, pendidikan, dan rasa percaya diri sebagai bangsa. Ketahanan nasional yang kuat dalam era tatanan dunia baru bererti: ekonomi yang lebih berdikari, politik yang tidak mudah didikte, dan budaya yang tetap teguh meskipun terbuka pada dunia. Globalisasi memang tak boleh dihindari, tapi cara kita menyikapinya akan menentukan – kita mahu terus jadi "negara pengemis", atau bangun tatanan yang lebih adil untuk rakyat sendiri.


















































