... Baca selengkapnyaAwal-awal kenal collagen drink, aku termasuk yang gampang ke-trigger jerawatan. Kirain semua minuman collagen itu pasti bagus buat kulit, ternyata nggak sesimpel itu. Yang bikin kaget, begitu aku cek komposisinya, gulanya tinggi banget dan kalori per sajinya juga lumayan besar. Sejak itu aku jadi jauh lebih hati-hati setiap lihat iklan wanita minum collagen drink yang kelihatan glowing – karena di balik itu semua, isi produknya tetap harus kita cek sendiri.
Sekarang kalau mau beli collagen drink, aku selalu cek tiga hal utama: gula, protein/kolagen, dan kalori. Pertama, pastikan rendah gula. Di kemasan biasanya tertulis "gula" atau "sukrosa", kadang juga ada sirup glukosa-fruktosa. Kalau di satu sajiannya gulanya tinggi, tubuh bisa mengalami inflamasi ringan yang efek sampingnya ke kulit: jerawat makin gampang muncul, terutama kalau kamu memang acne-prone. Apalagi kalau kamu juga masih konsumsi gula dari kopi susu, boba, atau snack manis lain, beban gulanya jadi dobel.
Kedua, pastikan kandungan proteinnya (kolagen) cukup tinggi. Collagen itu sebenarnya salah satu bentuk protein, jadi percuma kalau dibilang collagen drink tapi kandungannya kecil banget dibanding pemanis dan perasa. Biasanya aku bandingin beberapa merek, lihat berapa mg kolagen per sachet atau per botol. Semakin jelas dan transparan keterangannya, biasanya semakin meyakinkan. Kalau nggak dicantumkan dengan jelas, aku cenderung skip.
Ketiga, aku sekarang lebih pilih yang rendah kalori. Bukan semata-mata biar kurus, tapi lebih ke manajemen asupan harian. Collagen drink itu idealnya jadi pelengkap, bukan sumber kalori utama. Kalau satu minuman saja sudah tinggi kalori, nanti susah ngatur makan seharian. Makanya aku suka kalau di kemasan tertulis jelas jumlah kalori per sachet. Ada beberapa produk yang highlight "rendah kalori" dan itu membantu banget buat kita yang lagi diet defisit kalori atau sekadar jaga berat badan.
Selain komposisi, aku juga perhatiin cara minumnya. Kebanyakan orang lihat iklan wanita tersenyum sambil minum collagen drink warna merah muda atau peach, langsung kebayang enaknya buat kulit. Padahal timing minum, konsistensi, dan gaya hidup juga ngaruh. Aku pribadi lebih cocok minum malam hari sebelum tidur, karena di waktu itu tubuh lagi fokus regenerasi. Tapi tetap, kalau pola makan berantakan dan kurang tidur, hasilnya nggak akan maksimal.
Aku sempat coba collagen drink yang klaimnya rendah gula dan rendah kalori, plus ada tambahan L-Glutathione dan kombinasi bahan lain untuk mencerahkan. Rasanya masih enak, tapi nggak terlalu manis, jadi nggak bikin guilty. Di kemasan juga ditulis jelas per sachet berapa kalorinya, ini bikin aku lebih tenang karena nggak merasa "kecolongan" kalori dari minuman saja.
Buat kamu yang lagi cari-cari minuman collagen, saran aku: jangan cuma tergiur testimoni kulit glowing atau kemasan lucu. Luangkan waktu sebentar buat baca informasi nilai gizi di belakang kemasan: pastikan rendah gula, kandungan kolagen/protein jelas dan cukup, serta kalori per sajinya nggak berlebihan. Kalau perlu, foto komposisinya dan bandingkan beberapa merek sebelum memutuskan beli. Sejak pakai cara ini, kulitku jauh lebih jarang jerawatan setelah minum collagen drink, dan aku jadi lebih yakin sama produk yang kupilih.