... Baca selengkapnyaDulu aku mikir journaling itu harus estetik, pakai pulpen warna-warni, stiker, washi tape, terus isinya harus puitis. Akhirnya malah nggak mulai-mulai karena kebanyakan mikir. Pas ikut workshop self love, aku baru sadar: journaling yang penting itu isinya, bukan tampilannya.
Kalau kamu masih bingung mau mulai journaling dari mana, ini beberapa cara yang pernah aku coba dan cukup works:
1. Mulai dari 3 hal: syukur, perbaikan diri, apresiasi
Aku biasanya bagi satu halaman jadi tiga bagian: "Bersyukur", "Mau aku perbaiki", dan "Aku apresiasi dari diri sendiri". Nggak perlu panjang, 1–2 kalimat aja per poin. Misal:
- Bersyukur: hari ini masih sempat sarapan tenang
- Mau diperbaiki: sering scrolling HP sebelum tidur
- Apresiasi: berhasil selesain kerjaan tepat waktu
Simple, tapi bikin kepala jauh lebih plong.
2. Nggak harus tiap hari
Banyak orang berhenti journaling karena ngerasa "gagal" kalau bolong sehari. Padahal journaling itu alat, bukan kewajiban. Aku pribadi lebih santai: bisa 3–4 kali seminggu, atau pas lagi penuh pikiran aja. Yang penting konsisten dalam jangka panjang, bukan sempurna tiap hari.
3. Pilih media yang bikin kamu nyaman
Di foto kamu mungkin kebayangnya buku catatan terbuka, sticky notes, alat tulis berwarna-warni, dan hiasan lucu. Tapi kalau kamu lebih nyaman di notes HP atau iPad, itu juga tetap journaling. Aku kadang pakai buku fisik kalau mau slow down, tapi kalau di jalan aku tulis di aplikasi notes biar nggak kelewat momennya.
4. Coba beberapa jenis journaling
Ternyata journaling itu luas banget, nggak cuma curhat harian.
- Gratitude journaling: fokus ke hal-hal yang kamu syukuri
- Self improvement journaling: tulis hal yang mau kamu perbaiki dan progress-nya
- Self love journaling: tulis afirmasi dan hal-hal yang kamu apresiasi dari diri sendiri
Kamu bisa mix semuanya di satu buku, kayak entri tentang rasa syukur, perbaikan diri, dan apresiasi yang dikelilingi alat tulis berwarna-warni itu.
5. Pakai pertanyaan pemicu (journal prompts)
Kalau bengong di depan halaman kosong, coba pakai prompts. Beberapa yang sering aku pakai:
- Hari ini, emosi apa yang paling kuat aku rasakan?
- Hal kecil apa yang bikin aku tersenyum hari ini?
- Bagian dari diriku yang ingin aku peluk dan terima apa?
- Satu hal yang bisa aku lakukan besok untuk bikin diri sendiri lebih bahagia?
6. Jangan takut tulisan jelek atau berantakan
Serius, journaling itu bukan lomba kaligrafi. Tulisan jelek, coret-coret, sticky notes nempel di mana-mana, semua sah. Yang penting kamu jujur sama diri sendiri. Kadang justru halaman yang paling berantakan itu yang paling jujur dan paling ngebantu.
Sekarang setiap kali pikiranku lagi rame, aku langsung ambil buku dan pena. Nulis apa aja yang muncul di kepala, sampai rasanya lebih lega. Pelan-pelan aku jadi lebih ngerti pola pikir sendiri, tahu apa yang bikin aku overthinking, dan apa yang sebenarnya aku butuhin.
Kalau kamu lagi mulai perjalanan self love, cobain journaling versi paling simple dulu. Nggak perlu cantik, nggak perlu lama, cukup jujur. Nanti kalau udah nemu ritme, baru deh mau ditambah stiker, highlighter warna-warni, atau dekorasi bunga dan pelangi juga boleh banget. Yang penting: tulis untuk diri sendiri, bukan untuk dinilai orang lain.
kak bantu dong aku tuh pen banget ngejurnal tapi bimgung mulai dari mana hehe