... Baca selengkapnyaDulu aku kira journaling emosi itu harus estetik, tulisannya rapi, pakai spidol warna-warni. Akhirnya malah gak mulai-mulai. Baru kerasa manfaatnya waktu aku lagi capek banget secara mental, kepala penuh, tapi gak enak curhat ke siapa-siapa. Dari situ aku mulai pakai jurnal tentang diri sendiri sebagai tempat paling aman buat cerita.
Biasanya aku mulai dengan 1 kalimat jujur, misalnya: “Hari ini aku capek dan ngerasa gak berguna.” Dari situ pelan-pelan mengalir jadi tulisan curhat. Gak kupikirin bagus atau jelek, yang penting emosiku keluar. Ini yang orang sebut journaling emosi: kita nulis perasaan apa adanya tanpa di-judge.
Salah satu hal yang paling ngebantu aku adalah punya jurnal emosi harian. Bentuknya simpel banget:
- Tanggal
- Emosi utama hari ini (sedih, marah, cemas, senang, campur aduk)
- Apa yang terjadi
- Reaksi aku
- Hal kecil yang bisa aku apresiasi dari diri sendiri
Contohnya:
“Emosi: cemas & minder.
Yang terjadi: lihat sosmed, ngerasa ‘kenapa aku jelek dan gak secantik orang lain?’.
Reaksi: jadi pengen ngilang, gak pede.
Apresiasi diri: hari ini aku tetap berusaha mandi, kerja, dan beres-beres kamar. Itu juga bentuk sayang ke diri sendiri.”
Dari kebiasaan kecil ini, aku belajar mengapresiasi karya pribadi dan hal-hal kecil yang aku lakukan tiap hari. Ternyata mengapresiasi diri bisa mencegah sikap terlalu keras sama diri sendiri, termasuk kebiasaan ngomong, “Aku jelek, aku gagal, aku gak bisa apa-apa.” Pelan-pelan kalimat itu berubah jadi, “Aku memang belum sempurna, tapi aku lagi belajar dan usahaku pantas diapresiasi.”
Kalau bingung mau nulis apa, aku sering pakai beberapa pertanyaan panduan:
- Apa saja yang harus dirapikan hari ini? (pikiran, emosi, atau kamar?)
- Perasaan apa yang paling kuat aku rasakan sekarang?
- Hal kecil apa yang kubanggakan dari diriku hari ini?
- Kalau aku jadi sahabatku sendiri, aku mau bilang apa ke diriku?
Aku juga pernah coba macam-macam journaling: ada gratitude journaling (tulis 3 hal yang bisa disyukuri), ada free writing (nulis bebas tanpa berhenti 5–10 menit). Keduanya ngebantu banget buat ‘merapikan’ isi kepala. Buatku, journaling 15 menit benar-benar ngubah cara aku melihat diri sendiri.
Yang penting diingat: jurnal diri sendiri itu ruang pribadi, bukan lomba estetika. Kamu gak perlu nulis indah, cukup jujur. Bahkan kalau cuma kuat nulis, “Aku capek, tapi aku masih bertahan,” itu pun sudah bentuk keberanian dan self-love yang besar.
aku juga nulis tapi lebih ke kalo pas marah/pas ada yang mengganjal hati, aku tuangkan ke tulisan, gimana perasaan aku, dan kadang walau kasar aku suka tulis, emang ga keliatan estetik tapi percaya itu bisa bikin tenang daripada di pendam, dan lebih cepat reda marahnya🥰
aku juga nulis tapi lebih ke kalo pas marah/pas ada yang mengganjal hati, aku tuangkan ke tulisan, gimana perasaan aku, dan kadang walau kasar aku suka tulis, emang ga keliatan estetik tapi percaya itu bisa bikin tenang daripada di pendam, dan lebih cepat reda marahnya🥰