Nay (Nainunis) adalah seorang breakdancer inspiratif asal Aceh yang juga merupakan penyintas tsunami.
Ia dikenal karena prestasinya membawa budaya tari jalanan ini ke panggung dunia, sekaligus melatih anak muda di berbagai negara ASEAN meskipun sempat menghadapi tantangan budaya di wilayah yang menerapkan Syariat Islam.
Kami bertemu pada acara Grand Opening Danish Autolamp outlet kedua di Banda Aceh, Minggu 28 Juni 2026.
Nay mengatakan, pada tanggal 18 Juli 2026, akan ada seleksi breakdance di skate park Lampriek, Banda Aceh.
Seleksi ini akan diikuti oleh ratusan breakdance dari berbagai daerah di Indonesia.
Dua peserta terbaik akan ikut di ajang internasional yang akan dilaksanakan di Rusia pada bulan Agustus 2026.
Mengikuti perjalanan Nay sebagai breakdancer dari Aceh memberikan inspirasi tersendiri, terutama karena latar belakangnya sebagai penyintas tsunami. Pengalaman hidup yang penuh tantangan ini tampaknya membentuk karakter dan tekadnya dalam berkarya di dunia tari jalanan. Dari kisahnya, kita bisa belajar bahwa seni tidak hanya menjadi media ekspresi, tapi juga sarana pemulihan dan pemberdayaan diri. Pengalaman Nay menghadapi tantangan budaya di wilayah dengan penerapan Syariat Islam juga memberikan wawasan penting mengenai bagaimana seni dan tradisi dapat berinteraksi dengan norma sosial setempat. Dalam situasi tersebut, keberanian dan kesabaran menjadi kunci utama untuk bisa menyalurkan passion terhadap breakdance tanpa kehilangan sensitivitas budaya. Ini menjadi pembelajaran berharga bahwa seni bebas dapat hidup berdampingan harmonis dengan aturan dan nilai lokal jika dikelola dengan baik. Selain itu, kegiatan Nay yang melatih anak muda di berbagai negara ASEAN juga menunjukkan pentingnya peran seni dalam membangun komunitas dan jaringan antar muda kreatif. Melalui latihan bersama, mereka tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tapi juga membangun solidaritas dan rasa percaya diri. Ini sangat relevan di masa kini di mana kolaborasi lintas negara menjadi kunci kemajuan generasi muda. Momen seleksi breakdance yang akan diadakan di skate park Lampriek, Banda Aceh, tidak hanya membuka peluang bagi talenta lokal untuk bersinar di tingkat internasional, tetapi juga menjadi ajang untuk meningkatkan popularitas breakdance di kawasan Indonesia Timur. Kompetisi yang nantinya memilih dua peserta terbaik untuk berlaga di Rusia juga menandakan pengakuan dunia terhadap kualitas talenta Indonesia di bidang ini. Dari pengalaman ini, saya juga percaya bahwa dukungan dari berbagai pihak—mulai dari pemerintah lokal, komunitas seni, hingga sponsor seperti Danish Autolamp—sangat penting untuk mengembangkan potensi seni lokal agar dapat bersaing secara global. Dukungan ini tidak hanya dalam bentuk dana, tetapi juga fasilitas latihan dan platform apresiasi karya. Secara keseluruhan, kisah Nay mengajarkan kita bahwa keuletan dan kecintaan terhadap seni dapat melampaui batasan geografis maupun budaya. Bagi para pecinta breakdance atau seni jalanan lainnya, mengikuti perkembangan dan mengikuti seleksi seperti yang diadakan di Banda Aceh bisa menjadi kesempatan emas untuk mengukir prestasi dan memperluas jaringan di dunia internasional.



































