Haji Ruslan Daud, Anggota Komisi V DPR RI berkunjung ke Kampus Politeknik Pelayaran atau Poltekpel Malahayati, Aceh Besar, Rabu 29 Juli 2026.
HRD komit memperjuangan kuota khusus Orang Asli Aceh (OAA) agar putra-putri Aceh bisa menempuh pendidikan di Poltekpel Malahayati. Sehingga semakin banyak generasi Aceh yang menjadi pelaut tangguh.
Sebagai seseorang yang memiliki pengalaman dalam dunia pendidikan dan melihat langsung tantangan yang dihadapi oleh putra-putri Aceh, saya memahami betapa pentingnya adanya kuota khusus untuk Orang Asli Aceh (OAA) di Poltekpel Malahayati. Politeknik Pelayaran ini merupakan salah satu lembaga pendidikan unggulan yang menghasilkan pelaut profesional berkualitas tinggi. Namun, kenyataannya hanya sekitar 10% peserta dari Aceh sendiri yang mampu mengikuti pendidikan di sana, sebagian besar berasal dari luar daerah. Hal ini disebabkan salah satunya oleh biaya pendidikan yang cukup tinggi, yaitu hampir mencapai 300 juta rupiah untuk tiga tahun. Bagi keluarga-keluarga di Aceh, terutama yang berkecukupan terbatas, biaya ini tentu menjadi penghalang besar untuk mengakses pendidikan pelayaran yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan peluang kerja di industri maritim. Dalam kunjungan Anggota Komisi V DPR RI, Haji Ruslan Daud, ke kampus Poltekpel Malahayati, komitmen pemerintah daerah terhadap perjuangan kuota khusus semakin nyata. Hal ini bukan hanya untuk memenuhi keadilan pendidikan, tetapi juga wujud dari upaya menghadirkan kesetaraan dan memberi peluang lebih besar kepada putra-putri asli daerah untuk berkembang dan berkontribusi dalam bidang pelayaran. Saya sendiri menyaksikan bagaimana suasana pembelajaran di kampus ini sangat kondusif, dengan fasilitas yang memadai dan pengajar yang profesional. Namun jika Aceh ingin memiliki pelaut tangguh yang bisa bersaing secara nasional bahkan internasional, upaya pemerintah dalam memberikan dukungan finansial dan kebijakan afirmatif sangat dibutuhkan. Mendorong kesetaraan pendidikan di bidang pelayaran bukan hanya soal mengurangi ketimpangan, tetapi juga memperkuat posisi Aceh di bidang maritim yang potensial. Apalagi di era perkembangan industri pelayaran dan globalisasi yang semakin pesat, Aceh perlu memiliki generasi muda yang siap bekerja di kapal-kapal besar, kapal tempur, serta berbagai sektor di dunia maritim. Dari pengalaman yang saya bagikan ini, saya sangat mendukung penuh inisiatif kuota khusus bagi putra-putri Aceh di Poltekpel Malahayati. Semoga langkah ini bisa menjadi awal kolaborasi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan untuk mencetak pelaut-pelaut handal yang tidak hanya mengangkat nama Aceh, tapi juga mendukung pembangunan nasional secara signifikan.

































