Seorang bijak mengatakan bagaikan orang yang ketika masuk ke sebuah kapal, tidak akan tahu apa yang akan terjadi.
Meski tujuan ada dipenglihatan.
keinginan dan doa ada digenggaman.
Ketika kapal hidup oleng..
berpeganglah pada tiang kuat.
Ketika angin tenang kembali..
Menghela dengan rasa syukur hati.
Terkadang penglihatan akan masa depan nanar samar
Orang bijak mengatakan, ' ketika mendapatkan tandusnya dunia tak berarti harus keringnya hati akan ilmu'.
Harus mampu memahami,garis- garis aturan yang terlarang untuk dilewati.
untuk urusan dunia..
Pertanyaannya, adakah larangannya untuk mengikuti aturan kebanyakan orang?
untuk urusan ibadah .
ikuti apa yang ada dikitab suci dan ajaran nabi
Terlarang mengikuti mindset kebanyakan orang
Sekalipun itu bayangan keinginan diri.
Karena bisa jadi menggunakan nafsu buruk dijiwa
Ternyata dunia ini gelap dan ilmu jadi penerangnya. Meski sekecil korek api ketika dinyalakan, perjalanan hidup ini tak kan begitu meraba2 tanpa acuan pasti.
4/30 Diedit ke
... Baca selengkapnyaDalam pengalaman saya, menghadapi hidup seperti berlayar di laut yang kadang tenang, kadang bergelombang memang penuh tantangan. Saat kapal hidup mulai oleng, saya belajar pentingnya memiliki tiang kuat untuk berpegangan—ini bisa berupa nilai, keluarga, atau keyakinan yang tak tergoyahkan. Kadang kita merasa masa depan begitu samar, seolah berlayar tanpa peta, namun pengetahuan dan keyakinan menjadi penerang di kegelapan dunia yang penuh liku.
Saya pernah merasakan bagaimana mengikuti aturan umum kadang membawa kita ke arah yang salah, terutama jika aturan tersebut bertentangan dengan keyakinan dan hati nurani. Dalam hal ibadah, saya menemukan bahwa mengikuti apa yang diajarkan kitab suci dan nabi menjadi pedoman yang paling aman dibandingkan mengikuti mindset kebanyakan orang yang belum tentu sesuai dengan nilai kebenaran.
Seperti halnya korek api kecil yang mampu menyalakan penerangan, ilmu meski sederhana dapat membantu kita menavigasi perjalanan hidup tanpa ragu dan tanpa tersesat dalam nafsu buruk. Kebijaksanaan ini mengajarkan saya bahwa walau dunia ini penuh kecamuk, hati yang berserah dan mengutamakan ilmu akan selalu menemukan jalannya.
Saya juga belajar bahwa ketika kapal angin tenang kembali, penting untuk menghela nafas dan mensyukuri, sebagai bentuk penghargaan atas kekuatan dan keteguhan yang kita miliki. Membagikan pengalaman ini, saya berharap agar pembaca juga bisa menemukan 'tiang kuat' mereka dalam menghadapi ombak kehidupan dan terus melangkah dengan penuh keyakinan.