saat semua di rampas dan harus mulai LG nol
Di antara hamparan lavender yang ungu, ditemani bias cahaya senja yang keemasan, nona duduk termenung di atas punggung seekor tonggeret raksasa. Angin lembut membelai jilbab kremnya, dan caping Nón lá di kepalanya sedikit bergeser. Dia mengelus pelan punggung serangga besar itu, seolah sedang bercerita pada sahabat laman
nona menarik napas dalam. "Tapi setelah mereka tiada… rasanya semua jadi abu. Saudara-saudara yang tadinya jarang muncul, tiba-tiba datang dengan seribu macam alasan. Ini hakku, itu bagianku. Katanya 'demi kebaikan bersama', tapi kok ujung-ujungnya semuanya berpindah tangan ke mereka?"
Tangannya berhenti mengelus, jari-jarinya mengepal ringan
Tonggeret itu tidak menjawab, hanya bergeming dengan tenang. Tapi kehadiran makhluk besar itu seolah memberinya kekuatan. nona tersenyum tipis. "Mungkin ini takdir, ya? Mungkin ini cara Tuhan bilang, 'nona, kamu harus memulai lagi dari nol.' Rasanya memang sakit sekali, Tonggeret. Seperti dijajah di tanah sendiri."
Dia menghela napas lagi, kali ini lebih lega. "Tapi kamu tahu? Ada satu hal yang tidak bisa mereka ambil dariku. Ilmu dan pengalaman yang Bapak dan Ibu ajarkan. Resep Nenek yang sudah melekat di kepala. Dan semangat untuk tidak menyerah."
nona menatap mata tonggeret itu, seolah mencari cerminan dirinya di sana. "Mungkin memang harus begitu. Harus jatuh dulu, harus merasa kehilangan, supaya bisa bangun lebih kuat. Aku akan mulai lagi, Tonggeret. Dengan tangan kosong, tapi dengan kepala tegak. Siapa tahu, nanti aku bisa membuat sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih baik dari apa yang sudah hilang."
Cahaya keemasan semakin meredup, tapi senyum di wajah nona justru semakin cerah. Dia tahu, perjalanan ini akan sulit. Tapi dengan dukungan tak kasat mata dari alam, dan keyakinan di hatinya, dia siap menghadapi tantangan baru. Kisahnya mungkin baru akan dimulai.




























































