Mama minta maaf ya nak.. Sedih banget kena bully cuma gara-gara kaos kaki 🥲 #TentangKehidupan
2025/11/22 Diedit ke
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali anak cerita kalau dia diejek teman-temannya hanya karena kaos kaki, jujur aku kaget dan hancur hati. Di kepalaku cuma muter kalimat, “sehina itukah aku sebagai ibu sampai nggak sengaja bikin anakku dibully?” Padahal hanya kaus kaki dengan motif beruang dan tulisan "smile" dan motif yang mungkin dianggap perempuan oleh teman-temannya. Tapi dari hal kecil itu, ternyata bisa jadi bahan bullyan.
Buat yang mungkin lagi ngerasain hal sama, aku mau cerita sedikit apa yang kulakuin ke anakku. Pertama, aku validasi dulu perasaannya. Aku bilang ke dia, “Nggak apa-apa kalau kamu sedih, marah, atau malu. Perasaan kamu itu wajar.” Menurutku, ini penting supaya anak merasa didengar, bukan malah disalahkan atau disuruh cuek tanpa penjelasan.
Kedua, aku jelasin pelan-pelan tentang bullying. Aku terangkan kalau diejek berulang kali, dihina, atau dijadikan bahan tertawaan itu namanya dibully, dan itu salah, bukan salah dia. Aku tekankan bahwa masalahnya ada di perilaku teman-temannya, bukan di dirinya, bukan di kaus kakinya. Anak perlu tahu kalau dia tetap berharga, sehina itukah aku atau dia hanya karena kaos kaki? Tentu tidak.
Lalu, kami ngobrol soal tips agar tidak dibully teman. Bukan dalam arti menyalahkan korban, tapi lebih ke cara membentengi diri:
1. Latih anak untuk berani berkata, “Aku nggak suka kamu ngomong begitu. Itu nyakitin aku,” dengan suara tegas tapi tidak marah berlebihan.
2. Ajar anak untuk langsung mendekat ke guru atau orang dewasa di sekolah kalau ejekannya sudah keterlaluan.
3. Bekali anak dengan teman yang positif. Kadang punya satu dua teman baik bisa bikin dia lebih kuat kalau ada yang iseng.
4. Bangun rasa percaya diri dari rumah, misalnya dengan sering memuji usahanya, bukan hanya penampilan.
Untuk kasus kaos kaki ini, aku ajak anak berdiskusi: mau lanjut pakai kaus kaki motif itu atau ganti? Aku sengaja tidak memaksakan pendapatku. Kalau dia masih trauma dan memilih tidak memakainya, aku hormati. Di sisi lain, aku juga tanamkan bahwa tidak ada yang salah dengan motif perempuan atau laki-laki, hanya saja belum semua orang bisa menerimanya.
Kalau kamu merasa “aku dibully” atau punya foto anak dibully dan kamu simpan diam-diam di galeri, menurutku jangan dipendam sendiri. Bisa cerita ke pasangan, keluarga, guru, atau komunitas orang tua. Kadang, sekadar dengar orang lain pernah melalui hal yang sama bisa bikin kita merasa nggak sendirian.
Yang paling bikin aku belajar dari kejadian ini adalah: hal sekecil kaus kaki pun bisa jadi pemicu anak dibully. Tapi dari sini juga aku jadi lebih peka, lebih sering ngobrol dari hati ke hati dengan anak. Aku gak mau lagi dia merasa sendirian menghadapi ejekan. Kalau kamu sedang berada di posisi yang sama, pelan-pelan aja, nggak apa-apa merasa bersalah, tapi jangan berhenti di situ. Kita masih bisa belajar, minta maaf ke anak, dan sama-sama bangun keberanian dia buat menghadapi dunia luar.