Ada aja drama tinggal sama mertua
Jangan buru-buru meniar jelek sikap dan perkataan seorang menantu. Bisa jadi, itu adalah titik jenuh dari diam
terlalu lama.
Karena pada akhirnya, sikap seringkali tumbuh dari bagaimana ia diperlakukan.
Yaaa sadar sihh, bagaimanapun membela diri tetap menantu si paling serba salah, sipaling gatau diri, gatau berterimakasih, sipaling binatang-
Ada yang pasang satus yakan, agak ngerasalah aku.
karna pas siap aku posting keluh kesah ku..
isinya "binatang aja tau berterimakasih".
Hem iyalah aku si yg ga tau berterimakasih ini, walau aku yg udah lahırın cucunya ini, berjuang antara nidup dan matı, mengurus anaknya dan cucunya dannn mengerjakan semuanya sendirian walau ada ART sekalipun dirumah itu.
Oiya tambahan. Pas gada ART, awak yg beresin rumah pas lagi hamil pun awak embat nyapu dan mengepel. Ga tau berterimakasih kali kok aku. Padahal dirumahku ga pernah2 aku pegang sapu dan pel.
"kan ga benar2 diusir, wong dikasih üang/kok" katanya.
HELLOOO otakmu butuh uang aja memang.
Otakku engga, aku butuh ortu, lingkungan saling support, lingkungan kekeluargaan yg hangat untuk anakku, bukan uang.
Adapun anak satu2nya, lagi kesulitan,
meminta tolong ya pasti ke ortu kan?.
Kalau tau ujungnya meminta tolong jadinya
kami (anaknya sendiri, menantunya yg seorang mualaf,
dan bayi masih 8 bulan) diusir seperti ini lebih baik gausah minta tolong. Sakit tau.
Diputus kekeluargaan itu perkara uang.
Semoga gak kau rasakan apa yg kurasakan. Itu ajalah.
*masih kusapukan kamar si abg yg luas itu, biar ga panjang kali muncung.
FYI anak tunggal. Jadi tuh kamar skrg kosong jadi sarang jin.
Berbagi pengalaman pribadi tentang tinggal bersama mertua memang penuh liku dan emosi yang tidak selalu mudah diungkapkan. Saya juga pernah berada dalam posisi menantu yang merasa tertekan karena komunikasi yang kurang baik dengan mertua. Seringkali, apa yang disampaikan mertua terasa seperti kritikan tajam yang membuat hati terluka, mirip dengan kalimat "Kadang seorang MERTUA berbicara kepada menantunya semudah melempar batu ke laut, tapi dia tidak tau sedalam apa batu itu tenggelam." Situasi ini mengajarkan saya bahwa setiap kata dan sikap dalam keluarga besar perlu dipertimbangkan dengan hati-hati karena bisa berdampak dalam secara mendalam bagi perasaan menantu. Jangan cepat menilai menantu yang tampak 'diam' atau 'batas', bisa jadi itu adalah bentuk titik jenuh yang muncul akibat perlakuan yang kurang mendukung. Yang paling menyakitkan adalah ketika kehadiran seorang menantu sudah berjuang keras, khususnya dalam mengurus anak dan cucu, namun merasa tidak dihargai atau bahkan dianggap tidak tahu berterima kasih. Saya juga merasakan bagaimana membagi waktu antara mengurus rumah sendiri dan membantu rumah mertua saat kondisi sulit, termasuk saat tidak ada bantuan ART. Hal ini membuat tekanan mental sangat nyata. Dalam hal meminta tolong kepada keluarga, tentu berharap ada lingkungan yang hangat dan dukungan yang nyata, bukan justru penolakan yang menyakitkan. Dampak dari putus hubungan kekeluargaan karena masalah materi sangat menyedihkan, terlebih bagi anak tunggal dan keluarga muda yang baru membangun kehidupan. Saya belajar banyak dari pengalaman tersebut, bahwa komunikasi terbuka, saling menghargai, dan empati menjadi kunci agar hubungan menantu dan mertua bisa lebih harmonis. Membangun hubungan kekeluargaan yang sehat sangat penting, bukan hanya soal uang atau materi, melainkan bagaimana saling memberikan dukungan emosional dan rasa hormat satu sama lain demi kebahagiaan bersama.






























































