... Baca selengkapnyaSebagai suami, kadang aku merasa seperti tokoh utama dalam sebuah novel yang penuh lika-liku. Bukan tokoh yang gagah dan serba bisa, tapi lelaki biasa yang masih sering salah, gampang lelah, dan rezekinya naik turun. Setiap kali lihat ilustrasi “Maafkan aku, istriku… aku hanya manusia biasa”, rasanya seperti bercermin.
Ada malam-malam ketika aku duduk di tepi tempat tidur, pegang kepala, bingung harus bagaimana. Bukan karena tidak sayang keluarga, justru karena sayang dan takut mengecewakan. Dompet tipis, tagihan tetap jalan, sementara di luar sana seolah semua orang hidupnya mulus. Di titik seperti itu, kadang aku mendadak lebih banyak diam.
Buat para istri, mungkin diamnya suami terlihat seperti tidak peduli, padahal sering kali di dalam kepalanya penuh suara: “Gimana caranya biar besok bisa lebih baik? Gimana caranya bikin istri dan anak tetap tersenyum?” Diam itu bukan dingin, tapi cara kami menenangkan diri dan menyusun rencana, meski sederhana.
Aku juga belajar, jadi suami bukan cuma urusan cari uang. Ada momen ketika aku duduk di depan laptop, lembur, berusaha cari tambahan penghasilan. Tapi ternyata yang istriku butuh bukan cuma uang, tapi juga waktu untuk ngobrol, didengarkan, dan dipeluk saat dia lelah. Dari situ aku sadar, berbakti sebagai suami itu seimbang: ikhtiar untuk nafkah, tapi juga hadir secara hati.
Di tengah semua rasa bersalah dan lelah itu, aku dan istri berusaha kembali ke titik yang sama: doa. Kami duduk berdua, menengadahkan tangan, minta pada Allah supaya diberi rezeki yang cukup dan hati yang lapang. Rasanya tenang ketika bisa saling memaafkan dan saling menguatkan, meski masalah tidak langsung hilang.
Mungkin hidup kita tidak seindah cerita dalam novel, tapi justru di situlah maknanya. Rezeki yang seret, dompet yang kadang cuma berisi uang pas-pasan, pelukan istri saat aku merasa gagal—semua itu membuatku belajar rendah hati. Istriku yang mau memegang bahuku dan bilang, “Aku percaya kamu sudah berusaha”, itu lebih berharga dari apa pun.
Untuk para suami, tidak apa-apa mengakui kalau kita hanya manusia biasa. Minta maaf kalau salah, ucapkan terima kasih kalau istri bertahan di samping kita. Untuk para istri, hargailah usaha suamimu meski hasilnya belum sempurna. Kadang satu kalimat dukungan darimu bisa menghapus letih seharian.
Akhirnya, perjalanan rumah tangga ini seperti membaca bab demi bab kisah panjang. Ada bagian sedih, ada bagian bahagia, ada bab penuh penyesalan, tapi juga bab penuh harapan. Selama kita mau saling memaafkan dan bertawakal, insyaAllah setiap halaman akan terasa lebih ringan untuk dijalani bersama.