... Baca selengkapnyaKalau bicara ridho guru, jujur dulu aku menganggapnya hanya sekadar adab tambahan. Yang penting kan belajar, baca buku, ikut kelas online, selesai. Tapi setelah ikut beberapa kajian tentang pentingnya ridho guru dalam menuntut ilmu, cara pandangku pelan-pelan berubah.
Ridho adalah rasa penerimaan dan kerelaan dari hati. Ridho guru berarti guru rela, ikhlas, dan senang dengan muridnya, baik dalam proses belajar maupun setelahnya. Dari beberapa ustadz dan ustadzah, aku sering dengar kalimat: "Ridho guru adalah ridho Allah". Maksudnya, kalau kita berusaha menjaga hubungan baik dengan guru, menghormati, taat dalam hal yang ma’ruf, itu menjadi salah satu pintu datangnya pertolongan dan keberkahan dari Allah.
Aku pernah merasakan bedanya menuntut ilmu dengan dan tanpa ridho guru. Waktu belajar hanya dari rekaman tanpa mengenal guru, ilmunya masuk, tapi cepat hilang dan sulit diamalkan. Beda ketika aku benar-benar sowan ke guru, minta izin belajar, jaga adab, dan berusaha tidak menyakiti hati beliau. Ada rasa takut dan segan yang sehat, dan yang paling kerasa, ilmu yang sedikit pun jadi lebih nempel dan mengubah perilaku.
Dalam kajian tentang ridho guru, biasanya juga dibahas bahaya belajar tanpa guru. Tanpa bimbingan orang yang lebih alim, kita gampang salah paham, gampang sok paham, bahkan bisa menyimpang. Karena itu penting banget mencari guru yang bersanad, yang ilmunya tersambung sampai kepada para ulama, dan akhirnya kepada Rasulullah. Di sinilah posisi guru sebagai penyampai ilmu Nabi, bukan sekadar pengajar materi.
Aku juga tersentuh ketika dijelaskan tentang tiga orang tua yang harus dimuliakan: orang tua kandung, guru, dan mertua. Guru dimasukkan ke dalam daftar ini karena jasanya bukan hanya di dunia, tapi sampai urusan akhirat. Orang tua melahirkan dan membesarkan, guru menunjukkan jalan hidayah dan ilmu yang menyelamatkan.
Salah satu nasihat yang sering diulang adalah syair tentang enam syarat menuntut ilmu: kecerdasan, kemauan, kesungguhan, biaya, petunjuk guru, dan masa yang lama. Menariknya, "petunjuk guru" ditempatkan sebagai salah satu syarat inti. Artinya, secerdas apa pun kita, kalau tidak mau diarahkan guru, perjalanan ilmu jadi pincang.
Belakangan aku juga suka memperhatikan kaligrafi para ulama besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal yang sering dipasang di poster kajian. Selain indah, kaligrafi itu mengingatkan kalau ilmu syariat punya akar yang kuat dari ulama-ulama terdahulu. Rasanya jadi malu kalau menuntut ilmu tapi tidak menghormati guru dan mata rantai ilmu yang panjang itu.
Dari pengalaman pribadi, langkah kecil yang mulai kugiatkan untuk mencari ridho guru: datang tepat waktu ke majelis, duduk dengan sopan, tidak sibuk dengan gawai saat guru bicara, mencatat, lalu setelah kajian berusaha mengamalkan. Sesekali kirim doa untuk guru, dan kalau ada kemampuan, membantu dakwah beliau. Bukan untuk cari pujian, tapi sebagai bentuk terima kasih.
Intinya, ridho guru itu bukan teori kosong. Dia terasa nyata dalam keberkahan hidup: hati lebih tenang, ilmu lebih kokoh, dan kita lebih terjaga dari kesombongan. Menuntut ilmu tanpa cari ridho guru mungkin tetap dapat pengetahuan, tapi sering kali kehilangan keberkahan yang justru menjadi tujuan utama dari belajar agama.