... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali tertarik sama hidroponik, jujur aku lumayan bingung soal persiapan media tanam dan milih sistem yang cocok buat di rumah. Tapi ternyata, kalau dijalani pelan-pelan, semua bisa dipelajari sambil jalan.
Untuk persiapan media tanam, aku mulai dari yang paling sering dipakai: rockwool. Alasannya simpel, rockwool gampang menyerap air, akar jadi cepat tumbuh, dan cocok banget buat pemula. Aku potong rockwool jadi kubus kecil, direndam dulu sebentar pakai air bersih sampai benar-benar basah, baru ditiriskan. Setelah itu, benih kangkung dan selada aku taruh di bagian tengah rockwool, cukup 1–2 biji per potong supaya nggak terlalu padat. Rockwool yang sudah berisi benih aku simpan di tempat teduh, lembap, dan nggak kena matahari langsung. Biasanya 3–5 hari sudah mulai kelihatan kecambah.
Selain rockwool, sebenarnya ada media tanam lain seperti hidroton, sekam bakar, atau spons. Cuma buat di rumah, menurutku rockwool paling praktis dan rapi, apalagi kalau pakai sistem hidroponik paralon atau instalasi vertikal di dinding. Yang penting, media tanam harus bisa menahan akar, menyimpan air dan nutrisi, tapi tetap ada rongga udara.
Nah, soal sistem hidroponik, aku sempat bingung milih antara Wick, NFT, dan DWC. Akhirnya aku coba sistem hidroponik DWC (Deep Water Culture) karena lumayan simpel buat skala rumahan. Di sistem DWC, akar tanaman langsung menggantung di air yang sudah dicampur nutrisi AB mix. Netpot berisi rockwool ditaruh di lubang yang dibuat di styrofoam atau tutup wadah, lalu bagian bawah akar menyentuh air. Kalau mau maksimal, bisa ditambah aerator (pompa udara) supaya oksigen di air cukup, tapi kalau skala kecil di rumah, banyak yang berhasil tanpa aerator selama nutrisi dan airnya rutin dicek.
Kelebihan sistem hidroponik DWC buat IRT menurutku:
- Perawatan harian nggak ribet, tinggal cek ketinggian air dan campuran nutrisi AB mix.
- Cocok buat halaman kecil atau sudut rumah yang sebelumnya kosong.
- Bisa dipakai buat sayuran daun seperti kangkung, selada, sawi, bayam, yang masa panennya relatif cepat.
Tips praktis dari pengalamanku:
1. Mulai dari instalasi sederhana, misalnya pakai ember atau kotak plastik yang ditutup styrofoam, baru nanti kalau sudah paham bisa upgrade ke paralon atau sistem vertikal.
2. Simpan instalasi hidroponik di tempat yang kena matahari pagi tapi tidak terlalu terik seharian, supaya tanaman nggak stres.
3. Nutrisi AB mix jangan asal tuang. Ikuti petunjuk di kemasan, dan lebih baik mulai dari konsentrasi agak rendah dulu, terutama buat bibit yang baru pindah.
4. Rutin cek akar. Kalau akar terlihat putih dan bersih, berarti sistem berjalan baik. Kalau mulai kecokelatan atau berbau, segera ganti air dan bersihkan wadah.
Setelah beberapa kali panen, aku mulai percaya diri buat jual sedikit hasil hidroponik ke tetangga. Ternyata banyak yang suka karena sayurannya segar dan bersih. Dari situ aku sadar, persiapan media tanam yang benar dan pilihan sistem hidroponik DWC yang sederhana bisa banget jadi pintu rezeki baru buat IRT dari rumah sendiri.
masyaAllah keren kak👍