Domestic violence/ Kekerasan Dalam Rumah Tangga bisa terjadi karena kita mentolerir tindakan agresif/kekerasan yang dilakukan pertama kali oleh pasangan.
Tetapkan batasan, jangan toleransi dan komitmen mundur jika pasangan melakukan kekerasan/tindakan agresif‼️
Aku dulu juga sempat bingung soal istilah-istilah dalam hubungan, termasuk kata "pervert" yang sering seliweran di medsos. Banyak yang pakai buat bercanda, tapi nggak semua orang paham arti sebenarnya dan kapan itu sudah jadi red flag dalam hubungan. Secara sederhana, pervert biasanya dipakai untuk menggambarkan orang yang punya perilaku seksual yang menyimpang, nggak pantas, atau bikin orang lain nggak nyaman. Misalnya, pasangan yang terus-menerus melontarkan komentar seksual yang kamu nggak suka, ngirim foto/video vulgar tanpa persetujuanmu, atau maksa kamu melakukan hal yang kamu jelas-jelas nggak nyaman. Nah, kalau ini dibiarkan dan kamu normalisasi, lama-lama bisa jadi bentuk kekerasan seksual atau kekerasan dalam hubungan. Di hubungan, sering banget semuanya dibungkus dengan alasan "kan bercanda" atau "kan aku sayang sama kamu". Padahal kalau kamu udah merasa risih, tertekan, atau takut menolak, itu sudah tanda bahaya. Sama seperti tindakan agresif lain—baik verbal maupun non-verbal—ini bukan perlakuan yang pantas kamu terima. Biar nggak kebablasan, aku biasanya pakai beberapa langkah ini: 1. Sadari dulu perasaannya Kalau pasangan ngomong atau melakukan sesuatu yang bernada seksual dan kamu merasa nggak nyaman, jangan diabaikan. Aku suka tanya ke diri sendiri: "Aku benar-benar nyaman nggak sih? Atau cuma takut dibilang lebay?" Kalau hati kecilmu bilang nggak nyaman, validasi perasaan itu. 2. Beri peringatan dan batasan yang jelas Kamu bisa pakai kalimat tegas tapi tetap tenang, misalnya: - "Aku nggak suka kalau kamu komentar soal tubuh aku kayak gitu. Tolong stop." - "Jangan kirim konten kayak gitu lagi ya, aku nggak nyaman." - "Kalau kamu bercanda soal hal seksual terus, aku bakal jaga jarak." Kunci utamanya: sebutkan perilakunya, jelaskan perasaanmu, dan tegaskan batasan. 3. Lihat responnya Pasangan yang sehat akan menghargai batasanmu: dia minta maaf, berhenti, dan berusaha berubah. Tapi kalau dia malah gaslighting (bilang kamu lebay, baper, nggak asik), marah, atau balikin salah ke kamu, itu tanda bahwa dia nggak respect sama kamu. 4. Jangan normalisasi Kadang kita bertahan karena mikir, "Ya udah lah, namanya juga cowok," atau "Dia cuma pervert dikit kok, tapi baik." Aku pernah di posisi itu dan ujungnya aku makin nggak kenal diri sendiri, standar aku terhadap perlakuan yang pantas jadi turun. Padahal kalau dari awal kita stop normalisasi tindakan agresif dan perilaku pervert yang melewati batas, kita sedang melindungi diri sendiri. 5. Berani mundur pelan-pelan Kalau setelah diberi peringatan jelas dia tetap mengulang, kamu berhak mundur. Nggak perlu nunggu sampai ada kekerasan fisik dulu. Tindakan agresif verbal, gaslighting, komentar merendahkan seperti "bodoh banget sih", "bego banget kamu" yang dikombinasi dengan candaan seksual yang nggak sehat, itu sudah cukup jadi alasan untuk evaluasi hubungan. Intinya, mau itu tindakan agresif verbal, non-verbal, maupun perilaku pervert yang dibungkus bercanda, kamu nggak wajib terima. Kamu berhak ngomong "aku nggak suka", berhak pasang batasan, dan berhak pergi dari hubungan yang bikin kamu kehilangan rasa sayang sama diri sendiri.















































sehat dok...apa kbar ?