Siapapun bisa tertular HIV.
Tidak melihat pekerjaan, profesi atau tingkat kekayaannya. Selama melakukan kegiatan beresiko punya potensi tinggi penularannya.
Berdasarkan pengalaman banyak kasus, penularan HIV kerap terjadi di kalangan pasangan suami istri, termasuk ibu rumah tangga yang tanpa disadari beresiko tertular dari pasangannya. Fenomena ini dinamakan serodiscordant, di mana salah satu pasangan positif HIV dan yang lain negatif. Dalam praktik saya, sering mendengar kekhawatiran dari istri yang curiga terhadap suaminya. Pedoman medis menekankan pentingnya pasangan yang positif HIV menerima terapi antiretroviral (ARV) dengan rutin. Jika viral load mereka tidak terdeteksi (undetectable), risiko penularan ke pasangan sangat rendah bahkan hampir nihil. Namun, penggunaan kondom secara konsisten dan benar tetap disarankan untuk mencegah penularan. Hal ini sangat penting karena tidak semua orang menjalani terapi dengan disiplin, dan peluang terjadinya luka mikro di alat kelamin dapat memungkinkan virus HIV masuk ke tubuh. Menghilangkan stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) juga perlu terus didorong supaya mereka menerima dukungan dan pengobatan tanpa diskriminasi. Stigma justru membuat informasi dan penanganan terlambat sehingga penularan bisa meningkat. Selain itu, edukasi harus dilakukan luas kepada semua lapisan masyarakat bahwa HIV tidak mengenal status sosial, ekonomi, atau latar belakang pendidikan. Semua orang memiliki potensi dan risiko yang sama selama melakukan aktivitas yang beresiko tinggi. Oleh sebab itu, kesadaran akan pencegahan dan pemeriksaan dini sangat krusial. Saya mendorong setiap orang, terutama pasangan suami istri, untuk berdiskusi terbuka mengenai status HIV, melakukan tes secara rutin, dan bila perlu mendampingi pasangan melakukan konsultasi ke tenaga medis agar mendapat informasi dan pengobatan yang tepat. Dengan cara ini, risiko penularan dapat ditekan dan kehidupan tetap sehat dan produktif.

















































