Suspek diagnosa pada kasus ini bisa mengarah ke 2 hal, suspek diagnosa pertama mengarah ke “Persistensi gigi sulung dengan erupsi ektopik gigi permanen” atau gigi dewasa yang tumbuh tidak pada tempatnya dan berbentuk tajam atau suspe kedua congenital syphilis yaitu Infeksi bakteri yang ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan dan menyusui.
Aku sering dapat pertanyaan dari orang tua yang kaget saat gigi anaknya terlihat "dobel" atau seperti gigi ikan hiu. Biasanya muncul di usia sekitar 6–7 tahun, ketika gigi susu belum tanggal tapi gigi permanennya sudah mulai tumbuh di belakang atau di samping. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai persistensi gigi sulung. Secara simpel, persistensi gigi sulung itu adalah gigi susu yang belum lepas padahal waktunya sudah lewat, sementara gigi permanen penggantinya mulai erupsi. Kalau jalur erupsinya terganggu, gigi permanen bisa tumbuh ektopik (tidak pada tempatnya), sehingga tampak bercabang, bertumpuk, atau bentuknya tampak tajam dan bikin tampilan gigi jadi aneh. Dari sisi orang tua, yang paling sering dikeluhkan bukan rasa sakit, tapi masalah estetis dan psikologis. Anak jadi kurang percaya diri, malu senyum, bahkan sering diejek teman sekolahnya karena giginya dibilang aneh. Ini yang kadang suka diremehkan, padahal efek ke mental anak lumayan besar. Untuk persistensi gigi sulung sendiri, langkah awal yang biasa aku lakukan adalah observasi dan evaluasi berkala. Dokter gigi anak akan melihat apakah gigi permanen sedang dalam posisi yang masih memungkinkan untuk “bergeser” ke tempat normal setelah gigi sulungnya tanggal. Kalau dalam beberapa waktu bentuk dan posisi gigi permanen tidak membaik, barulah dipikirkan tindakan lanjut. Tindakan yang bisa dipertimbangkan misalnya: - Pencabutan gigi sulung yang persisten jika memang sudah waktunya lepas dan mengganggu jalur gigi permanen. - Tambal gigi untuk menghaluskan bagian tajam, supaya tidak melukai bibir/pipi dan tampak lebih rapi. - Veneer atau mahkota penuh (crown) pada kasus tertentu, jika bentuk giginya sangat tidak normal dan mengganggu estetika. Banyak orang tua juga bingung membedakan persistensi gigi sulung dengan kelainan bawaan seperti hipoplasia enamel, amelogenesis imperfecta, atau bahkan tanda-tanda kongenital sifilis seperti Hutchinson’s incisors dan mulberry molar. Bedanya, pada persistensi gigi sulung, masalahnya lebih ke posisi dan waktu lepasnya gigi susu, sedangkan pada kelainan-kelainan tadi kualitas email giginya memang tidak sempurna sejak proses pembentukan. Kalau kamu menemukan gigi anak tampak bercabang, bertumpuk, atau seperti gigi ikan hiu, jangan panik dulu. Foto kondisi giginya, lalu bawa ke dokter gigi anak untuk diperiksa. Dari situ bisa dinilai apakah cukup observasi, perlu dicabut gigi sulungnya, atau perlu perawatan tambahan seperti tambal, veneer, atau mahkota. Semakin cepat diperiksa, biasanya perawatan makin sederhana dan hasil estetiknya juga lebih baik, sehingga anak bisa kembali percaya diri saat tersenyum.





















































